Chapter II.pdf - USU Institutional Repository - Universitas Sumatera ...

33 downloads 305 Views 286KB Size Report
BAB II. LANDASAN TEORI. A. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). A.1. Definisi Satpol PP. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 6 ...

BAB II LANDASAN TEORI

A. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) A.1. Definisi Satpol PP Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 6 tahun 2010 tentang satuan polisi pamong praja, dalam Bab I (1) mengenai ketentuan umum disebutkan Satuan Polisi Pamong Praja, yang selanjutnya disingkat Satpol PP, adalah bagian perangkat daerah dalam penegakan Peraturan daerah (Perda) dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. Polisi Pamong Praja adalah anggota Satpol PP sebagai aparat pemerintah daerah dalam penegakan Perda dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat. A.2. Tugas dan Kewajiban Satpol PP Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 6 tahun 2010 tentang satuan polisi pamong praja, dalam Bab II (5) mennyatakan, tugas satuan polisi pamong praja (Satpol PP) adalah : A. Menyusun program dan melaksanaan penegakan Perda, menyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat B. Melaksanaan kebijakan penegakan Perda dan peraturan kepala daerah C. Melaksanaan

kebijakan

penyelenggaraan

ketertiban

umum

dan

ketenteraman masyarakat di daerah

Universitas Sumatera Utara

D. Melaksanaan kebijakan perlindungan masyarakat. E. Melaksanaan koordinasi penegakan Perda dan peraturan kepala daerah, menyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Penyidik Pegawai Negeri Sipil daerah, dan/atau aparatur lainnya. F. Melakukan pengawasan terhadap masyarakat, aparatur, atau badan hukum agar mematuhi dan menaati Perda dan peraturan kepala daerah. G. Melaksanaan tugas lainnya yang diberikan oleh kepala daerah.

Selanjutnya dalam Bab III (8) PP Nomor 6/2010 disebutkan mengenai kewajiban satpol PP dalam melaksanakan tugasnya, yakni : A. Menjunjung tinggi norma hukum, norma agama, hak asasi manusia, dan norma sosial lainnya yang hidup dan berkembang di masyarakat B. Menaati disiplin pegawai negeri sipil dan kode etik Polisi Pamong Praja C. Membantu

menyelesaikan

perselisihan

masyarakat

yang

dapat

mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat D. Melaporkan

kepada

Kepolisian

Negara

Republik

Indonesia

atas

ditemukannya atau patut diduga adanya tindak pidana E. Menyerahkan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil daerah atas ditemukannya atau patut diduga adanya pelanggaran terhadap Perda dan/atau peraturan kepala daerah.

Universitas Sumatera Utara

B. Perilaku Kolektif B.1. Definisi Perilaku Kolektif Menurut Krahe (2005), perilaku kolektif mencakup berbagai macam bentuk perilaku yang dilakukan kelompok atau individu sebagai bagian kelompok. Menurut Hewstone dan Stroebe (2001) perilaku kolektif adalah perilaku yang dilakukan secara serentak oleh sejumlah besar orang, kelompok atau massa, baik yang terjadi secara spontan maupun yang terencana. Menurut McPhail (dalam Forsyth, 1990) perilaku Kolektif adalah aksi yang dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok besar yang merespon sesuatu dengan cara yang mirip dalam suatu kejadian atau situasi. Forsyth (1990) menjelaskan perilaku kolektif sebagai perilaku yang sama dan terkadang merupakan aksi tidak biasa yang dilakukan individu dalam kelompok besar. Dari pendapat beberapa tokoh diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku kolektif adalah aksi yang dilakukan secara bersama-sama/serentak dengan cara yang mirip oleh sejumlah besar orang dalam kelompok dalam suatu situasi atau kejadian tertentu, yang terkadang dapat berupa aksi yang tidak biasa. B.3. Pengaruh Kelompok Terhadap Perilaku Individu Krahe

(2005)

menyatakan

keanggotaan

di

kelompok

dianggap

meningkatkan efektivitas aksi individual, di dalam kelompok individu yang menjadi bagian kelompok akan mengubah cara berperilakunya sesuai norma yang barlaku dalam kelompok.

Universitas Sumatera Utara

Beberapa teori massa menjelaskan adanya keseragaman aksi pada individu-individu didalam kelompok massa. Misalnya Gustave Le Bon (dalam Forsyth, 1990) yang menyatakan individu-individu didalam massa akan bereaksi diarahkan oleh single collective mind/ group mind. Le Bon menyatakan bagaimanapun individu-individu yang berada dalam massa, apapun pekerjaannya, karakteristiknya, inteligensinya, mereka akan bereaksi mengikuti pemikiran kelompok dan menghasilkan perilaku yang berbeda dengan perilaku saat mereka terpisah dari kelompok. Menurut Le Bon adanya efek contagion yang menyebarkan emosi dan perilaku dari satu kepala ke lainnya, sehingga menyebabkan individu-individu dalam massa bereaksi dengan cara yang sama. Selanjutnya teori emergent norm Ralph turner and lewis killian (dalam Forsyth, 1990) yang menyatakan adanya keseragaman aksi individu dalam massa, dimana mereka menyatakan massa, kerumunan, dan kelompok lainnya terlihat bersatu dalam emosi dan aksi karena anggotanya mematuhi norma yang relevan dalam situasi tersebut. Karena norma ini muncul dalam situasi kelompok, ini menghasilkan pengaruh yang besar terhadap perilaku.

B.4. Individualitas Dalam Kelompok Membicarakan individualitas dalam kelompok massa bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, merujuk pada teori individualistic tradition oleh Floy Allport (dalam Hogg, 2001) yang menyatakan: “There is no psychology of groups which is not essentially and entirely a psychology of individual” (Allport, 1924 : p.4)

Universitas Sumatera Utara

Kemudian, dalam kaiatannya terhadap aksi kolektif, Alport (dalam Hogg, 2001) menyatakan: “The individual in the crowd behaves just as he would behave alone only more so” (Allport, 1924 : p.295)

Alport (dalam Hogg, 2001) menolak istilah group mind yang dinyatakan oleh Le Bon, menurutnya fikiran yang terpisah dari jiwa individu memiliki arti yang abstrak. Tokoh lain yang mendukung konsep individualitas dalam crowd adalah the logic of collective action oleh Olson (dalam Hogg, 2001). Olson berpendapat bahwa didalam massa, anggota-angggotanya beraksi dengan tujuan meningkatkan keuntungan individual hanya saja dibawah kondisi kelompok. Pendekatan lain yang konsisten dengan pendekatan ini adalah model rational calculus oleh Richard Berk (dalam Hogg, 2001). Dimana ia menyatakan aksi massa melibatkan 5 tahapan. Pertama, anggota massa mencari informasi, kedua, mereka menggunakan informasi ini untuk memprediksi kejadian yang mungkin, ketiga, mereka menyusun pilihan perilaku yang akan dihasilkan, keempat mereka membentuk urutan kemungkinan hasil dari aksi alternatif, serta yang kelima mereka memutuskan aksi yang paling meminimalisir kerugian dan meningkatkan keuntungan. Selanjutnya Berk (dalam Hogg, 2001) menyatakan efek dari massa adalah mengubah perilaku dengan tetap mempertahankan standart individual dan kecendrungan perilaku dasar.

Universitas Sumatera Utara

C. Perilaku Agresif C.1. Definisi Perilaku Agresif Barbara krahe (2005) menyatakan definisi agresi disajikan berdasarkan fokusnya terhadap tiga aspek, yaitu akibat yang merugikan/menyakiti, niat dan harapan untuk merugikan, dan keinginan orang yang menjadi sasaran agresi untuk menghindari stimulus yang merugikan itu. Tokoh lain yang juga memberikan definisi agresi yaitu Berkowitz (dalam Krahe, 2005)

yang

mendefinisikan agresi dalam hubungannya dengan

pelanggaran norma atau perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial. Richardson (dalam Krahe, 2005) mendefinisikan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain yang terdorong untuk menghindari. Menurut taylor, dkk (2000) perilaku agresif adalah segala bentuk perilaku yang direncanakan untuk menyakiti orang lain. Selanjutnya Taylor, dkk menyebutkan perilaku agresif disebabkab oleh dua faktor utama yaitu adanya serangan (attack) serta frustasi. Serangan merupakan salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab agresif dan muncul dalam bentuk serangan verbal atau serangan fisik. Faktor penyebab agresi selanjutnya adalah frustasi. Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh suatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, penghargaan atau tindakan tertentu. Robert A. Baron (2003) mendefinisikan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai makhluk hidup lain dimana makhluk hidup tersebut menolak perlakuan tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan beberapa definisi yang sudah diutarakan, maka peneliti menggunakan definisi agresi dari Barbara krahe untuk penelitian ini. C.2. Aspek-Aspek Perilaku Agresif Barbara krahe (2005) merangkum sembilan aspek perilaku agresif untuk mengkarakteristikan berbagai macam bentuk agresi, yaitu: A. Modalitas respon (Response modality), meliputi tindakan agresif secara fisik atau secara verbal. B. Kualitas respon (Response quality), meliputi tindakan agresif yang berhasil mengenai sasaran atau tindakan agresif yang gagal mengenai sasaran. C. Kesegeraan (Immediacy), meliputi tindakan agresif yang dilakukan individu langsung kepada sasaran atau yang dilakukan melalui strategistrategi secara tak langsung. D. Visibilitas (Visibility), meliputi perilaku agresif yang tampak dari perilaku individu atau yang tak tampak dari luar namun dirasakan oleh individu. E. Hasutan (Instigation), meliputi perilaku agresif yang terjadi karena diprovokasi atau yang merupakan tindakan balasan. F. Arah sasaran (Goal direction), meliputi perilaku agresif yang terjadi karena adanya rasa permusuhan kapada sasaran (hostility) atau yang dilakukan karena adanya tujuan lain yang diinginkan (instrumental). G. Tipe kerusakan (Type of damage), meliputi perilaku agresif yang menyebabkan kerusakan fisik atau yang menyebabkan kerusakan psikologis pada sasaran agresi.

Universitas Sumatera Utara

H. Durasi akibat (Duration of consquences), meliputi perilaku agresif yang menyebabkan kerusakan sementara atau yang menyebabkan kerusakan jangka panjang. I. Unit-unit sosial yang terlibat (Social unit involved), meliputi perilaku agresif yang dilakukan individu atau yang dilakukan secara berkelompok. C.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Agresif C.3.1. Faktor Kepribadian Temuan-temuan mengenai peran kepribadian dalam agresi memang masih terbatas jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang melihat dampak berbagai faktor situasional dalam agresi (Krahe, 2005). Sekalipun demikian beberapa konstruk kepribadian telah diusulkan untuk menjelaskan berbagai perbedaan individu dalam agresi. Barbara krahe (2005) menyatakan beberapa konstruk kepribadian dapat menyebabkan perbedaan individu dalam perilaku agresi, antara lain : A. Iritabilitas Caprara (dalam Krahe, 2005) menyatakan aspek iritabilitas mengacu pada kecendrungan untuk bereaksi secara impulasif, kontroversial, atau kasar terhadap provokasi atau sikap tidak setuju bahkan yang paling ringan sekalipun, yang bersifat habitual. Orang-orang yang dalam keadaan irratable memperlihatkan tingkat agresi yang meaningkat dibandingkan individu-individu yang nonirratable.

Universitas Sumatera Utara

B. Kerentanan Emosional Caprara (dalam Krahe, 2005) menyatakan kerentanan emosional didefinisikan sebagai kecendrungan individu untuk mengalami perasaan tidak nyaman, putus asa, tidak adekuat dan ringkih. Orang-orang yang rentan secara emosional memperlihatkan agresifitas yang lebih tinggi. C. Pikiran Kacau Versus Perenungan Caprara (dalam Krahe, 2005) menyatkan pikiran kacau versus perenungan menggambarkan sejauh mana seseorang yang mendapatkan stimulus agresi langsung menanggapi secara negatif atau mampu memikirkan pengalaman tersebut. D. Kontrol diri Konstruk kontrol diri mengacu pada hambatan internal yang seharusnya mencegah keterlepasan kecendrungan respon agresif. Penelitian Baumeister dan Boden (dalam Krahe, 2005) berdasarkan temuan bahwa perilaku kriminal seringkali dibarengi dengan kekurangkontrolan diri pada berbagai aktifitas lainnya (perokok berat, konsumsi alkohol yang berlebihan) mendukung pendapat bahwa masalah kontrol diri secara umum mendasari perilaku agresif. E. Harga diri Harga diri telah lama dianggap sebagai faktor penting yang menjelaskan perbedaan individu dalam agresi. Secara umum, diasumsikan rendahnya Harga diri akan memicu perilaku agresif, bahwa perasaan negatif mengenai “diri” akan membuat orang lebih berkemungkinan menyerang orang lain (Krahe, 2005). Tetapi dalam penelitian Baumeister dan Boden (dalam Krahe, 2005), mereka

Universitas Sumatera Utara

berpendapat bahwa individu-individu dengan harga diri tinggi lebih rentan terhadap perilaku agresif, terutama dalam menghadapi stimulus negatif yang dipersepsikan sebagai ancaman terhadap harga diri mereka yang tinggi. F. Gaya atribusi bermusuhan Konsep ini mengacu pada kecendrungan kebiasaan seseorang untuk menginterpretasi stimulus ambigu dengan cara bermusuhan dan agresi. Hasil penelitian Burks (dalam Krahe, 2005) menunjukan bahwa struktur pengetahuan mengenai permusuhan menyebabkan anak-anak menginterpretasi stimulus sosial dengan cara yang lebih negatif sehingga mereka lebih berkemungkinan untuk merespon dengan cara agresif. C.3.2 Faktor Situasional Sebelumnya telah disebutkan ciri-ciri individual yang bertanggung jawab atas terjadinya perbedaan kecendrungan agresi yang relatif stabil dari waktu kewaktu (Krahe, 2005). Selanjutnya berikut pengaruh situasional terhadap perilaku agresif : A. Penyerangan Serangan merupakan salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab agresif dan muncul dalam bentuk serangan verbal atau serangan fisik. Adanya aksi penyerangan dari orang lain akan menimbulkan reaksi agresi dari diri seseorang. B. Efek senjata Lebih dari 60% pembunuhan di Amerika serikat dilaporkan FBI dilakukan dengan senjata pada tahun 1989 dan pada tahun 1990 di Texas angka kematian

Universitas Sumatera Utara

lebih banyak disebabkan pembunuhan dengan senjata daripada kecelakaan lalu lintas. Perilaku agresif akan lebih sering dilakukak ketika ada senjata, pisau atau benda tajam. C. karakteristik target Ada karakteristik ciri tertentu yang mempuyai potensi sebagai target agresi, misalnya anggota kelompok yang tidak disukai atau orang yang tidak disukai. D. In group vs Out group conflic Perilaku agresif seringkali didasari atas konflik antar kelompok. Konflik antar kelompok seringkali dipicu oleh perasaan in group vs out group, sehingga anggota kelompok diwarnai prasangka. E. Alkohol Ada banyak temuan yang menunjukan bahwa, ketika terintoksikasi oleh alkohol, individu-individu menunjukan perilaku agresif lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak terintoksifikasi. Efek Farmakologis alkohol sangat bertanggung jawab atas efek peningkatan agresi. Alkohol memang tidak secara langsung menyebabkan perilaku agresif melainkan secara tidak langsung, yaitu alkohol mengganggu fungsi kognitif yang menyebabkan hambatan dalam pemrosesan informasi, termasuk perhatian terhadap berbagai hambatan normatif yang mestinya menekan respon agresif dalam keadaan tidak terintoksikasi. F. Temperatur Temperatur udara sekeliling juga adalah determinan situasional agresi. Terdapat suatu hipotesis yang dikenal dengan heat hypothesis yang menyatakan

Universitas Sumatera Utara

bahwa “temperatur tinggi yang tidak nyaman meningkatkan motif maupun perilaku agresif.

D. Kontrol Diri D.1. Definisi Kontrol Diri Gottfredson dan Hirschi (1990) mendefinisikan kontrol diri sebagai derajat kemudahan seseorang terkena serangan godaan sesaat. Gottfredson dan Hirschi (1990) menyatakan orang yang memiliki kontrol diri yang rendah adalah orangorang yang cenderung memiliki orientasi “here and now”, lebih memilih menyelesaikan sesuatu secara fisik dari pada mengandalkan kognitif, senang terlibat dalam aktifitas berbahaya, kurang sensitif pada kebutuhan orang lain, lebih memilih jalan pintas dibanding hal-hal yang kompleks, serta memiliki toleransi yang rendah terhadap sumber frustasi. Tokoh lain yang juga memberikan definisi kontrol diri antara lain Averill (dalam Rice, 2000) memberikan definisi kontrol diri dengan membedakannya kedalam tiga jenis kontrol diri yaitu kontrol perilaku, kontrol kognitif dan mengontrol keputusan. Kontrol perilaku didefinisikan sebagai kemampuan untuk bertindak yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kontrol kognitif Merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi yang

tidak

diinginkan

dengan

cara

menginterprestasi,

menilai,

atau

menghubungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis

atau

mengurangi

tekanan.

Kemudian

mengontrol

keputusan

Universitas Sumatera Utara

didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kopp (dalam Newman, 2008) yang menyatakan kontrol diri sebagai kemampuan untuk memenuhi keinginan dengan memodifikasi perilaku sesuai dengan situasi, menyegerakan atau menunda tindakan, dan berperilaku yang diterima secara sosial tanpa dibimbing atau diarahkan oleh hal lainnya. Nofziger (2001) menyatakan kontrol diri sebagai perlawanan terhadap godaan pada saat ini yang mungkin merintangi cita-cita jangka panjang, menunda kesenangan atau tujuan lain. Menurut pradiansyah (2003), kontrol diri adalah mampu menunda kenikmatan jangka pendek untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar secara jangka panjang. Zulkarnain (2002) menyatakan kontrol diri dapat diartikan sebagai suatu aktivitas pengendalian tingkah laku, pengendalian tingkah laku mengandung makna yaitu melakukan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu untuk bertindak. Semakin tinggi kontrol diri semakin intens pengendalian terhadap tingkah laku. Kontrol diri dalam penelitian ini didefinisikan berdasarkan pendapat Gottfredson dan Hirschi (1990) yang menyatakan kontrol diri sebagai derajat kemudahan seseorang terkena serangan godaan sesaat. Dimana orang yang memiliki kontrol diri yang rendah adalah orang-orang yang cenderung memiliki orientasi “here and now”, lebih memilih menyelesaikan sesuatu secara fisik dari pada mengandalkan kognitif, senang terlibat dalam aktifitas berbahaya, kurang sensitif pada kebutuhan orang lain, lebih memilih jalan pintas dibanding hal-hal yang kompleks, serta memiliki toleransi yang rendah terhadap sumber frustasi

Universitas Sumatera Utara

D.2. Aspek Kontrol Diri Gottfredson dan Hirschi (1990) menyatakan 6 aspek yang menjelaskan ciri orang yang memiliki kontrol diri yang rendah, yaitu: A. Impulsiveness Konsep ini mengacu pada seseorang yang tidak mempertimbangkan konsekuensi negatif dari perbuatan yang akan dilakukannya. Mereka memiliki orientasi “here and now” dan gampang tergoda untuk sesuatu yang menyenangkan. B. Physical activity Konsep ini menjelaskan individu dengan kontrol diri yang rendah lebih memilih kegiatan yang melibatkan aktifitas fisik daripada aktifitas yang melibatkan pemikiran. C. Risk seeking Konsep ini menjelaskan bahwa individu dengan kontrol diri yang rendah suka terlibat dalam aktifitas-aktifitas fisik yang beresiko, membangkitkan dan menegangkan. D. Self-centeredness Konsep ini menjelaskan individu dengan kontrol diri yang rendah cenderung mementingkan diri sendiri, kurang sensitif terhadap penderitaan dan kebutuhan orang lain, mereka sering tidak ramah, atau cenderung kurang peduli dalam pembinaan hubungan dengan orang lain.

Universitas Sumatera Utara

E. Simple tasks Individu dengan kontrol diri yang rendah akan cenderung menghindari tugas-tugas yang sulit dan membutuhkan banyak pemikiran, mereka lebih menyukai tugas sederhana yang tidak menuntut banyak pemikiran. F. Volatile temper Konsep ini menjelaskan individu dengan kontrol diri yang rendah cenderung rentan mengalami frustasi, mudah meledak-ledak, tempramental, dan ketika terlibat permasalahan dengan orang lain cenderung sulit untuk menyelesaikannya dengan kepala dingin. D.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Kontrol Diri Menurut Gottfredson dan Hirschi (1990) beberapa karakteristik yang berhubungan dengan lemahnya kontrol diri adalah kurangnya kedewasaan, disiplin dan pelatihan. Usia menurut gottfredson dan Hirschi (dalam Conner et all, 2009) juga mempengaruhi kontrol diri, yaitu semakin meningkat usia seseorang kemampuan mengontrol dirinya juga akan semakin meningkat. Tokoh lain yang mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi kontrol diri adalah Siegel (2008) yang menyatakan pola asuh orang tua mempengaruhi kurangnya kontrol diri pada anak. Orang tua yang mengabaikan atau gagal memonitor tingkah laku menyimpang yang dilakukan anak, dan tidak memberikan hukuman, akan menghasilkan rendahnya kontrol diri pada anak. Kemudian anak yang tidak dekat dengan orang tuanya, kurang pengawasan, serta anak yang orangtuanya berperilaku kriminal atau menyimpang lebih mungkin memiliki kontrol diri yang rendah.

Universitas Sumatera Utara

E. HARGA DIRI E.1 Definisi Harga Diri Menurut Coopersmith (1981) harga diri adalah evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, yang diekspresikan dalam suatu bentuk sikap dan menunjukan tingkat dimana individu meyakini dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga. Tokoh lain yang memberikan definisi harga diri antara lain frey & Carlock (1998) yang menyatakan harga diri merupakan penilaian positif atau negatif terhadap diri sendiri yang menunjukan sejauh mana individu itu meyakini dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga yang berpengaruh dalam perilaku seseorang. Selanjutnya Branden (2000) dalam bukunya How To Raise Your Self Esteem, menyatakan bahwa harga diri merupakan perpaduan antara kepercayaan diri (self confidence) dan penghormatan diri (self respect). Taylor, Peplau, Sears (2000) mengatakan bahwa harga diri adalah evaluasi yang kita buat terhadap diri kita sendiri, yaitu bahwa kita tidak hanya melihat apa yang kita miliki akan tetapi juga pada bagaimana kita menilai kualitas yang kita miliki tersebut. Menurut Papalia (2007) harga diri adalah evaluasi positif individu terhadap gambaran dirinya (self image). Baron (2006) mendefinisikan harga diri sebagai derajat dimana diri kita, kita persepsikan secara positif atau negatif. Rosenberg (dalam Khairani, 2003) menggambarkan individu dengan harga diri tinggi sebagai individu yang menilai dirinya sebagaimana adanya. Sedangkan individu dengan harga diri rendah dinyatakan sebagai individu yang menarik diri

Universitas Sumatera Utara

(self rejection), merasa kurang puas terhadap dirinya (self dissatisfaction) dan menghina diri sendiri (self contempt). Harga diri seseorang dapat menentukan bagaimana cara seseorang berperilaku didalam lingkungannya. Peran harga diri dalam menentukan perilaku ini dapat dilihat melalui proses berfikirnya, emosi, nilai, cita-cita, serta tujuan yang hendak dicapi seseorang. Bila seseorang mempunyai harga diri yang tinggi, maka perilakunya juga akan positif, sedangkan bila harga dirinya negatif, akan tercermin pada perilaku yang negatif pula (Coopersmith, 1981). Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa harga diri dapat diartikan sebagai evaluasi yang dibuat individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sebagai individu yang mampu, penting dan berharga. E.2. Aspek-Aspek Harga Diri Menurut Coopersmith (1981) aspek-aspek harga diri meliputi : A. Kebutuhan untuk berharga Perasaan berharga merupakan perasaan yang dimiliki individu berupa pernyataan yang bersifat pribadi seperti pintar, sukses, dan baik. Rasa berharga individu muncul karena dirinya sendiri dan penilaian orang lain, terutama orang tua. Penilaian ini sangat tergantung pada pengalaman yang dirasakan individu, yaitu apakah individu merasa berharga atau tidak. Individu yang menganggap dirinya berharga serta dapat menghargai orang lain umumnya memiliki harga diri yang positif. Individu yang merasa dirinya berharga cenderung dapat mengontrol tindakan-tindakannya terhadap dunia luar dirinya, dapat mengekspresikan dirinya dengan baik dan dapat menerima kritik dengan baik.

Universitas Sumatera Utara

B. Perasaan mampu Perasaan mampu merupakan perasaan individu pada saat ia merasa mampu mencapai suatu hasil yang diharapkan, perasaan mampu merupkan hasil persepsi individu mengenai kemampuannya yang akan mempengaruhi pembentukan harga diri individu tersebut. Individu yang memiliki perasaan mampu umumnya memiliki nilai-nilai dan sikap yang demokratis serta orientasi yang realistis. Mereka biasanya menyukai tugas baru, menantang, aktif dan tidak cepat bingung bila segala sesuatu berjalan diluar rencana. Mereka tidak menganggap dirinya sempurna melainkan tahu keterbatasan diri dan mengharap adanya pertumbuhan dalam dirinya. Bila individu merasa telah mencapai tujuannya secara efisien maka individu akan memberi penilaian yang positif pada dirinya. C. Perasaan diterima Bila individu merupakan bagian dari suatu kelompok dan merasa bahwa dirinya diterima serta dihargai oleh anggota kelompok lainnya, maka individu akan merasa dirinya diikutsertakan atau diterima. Individu akan memiliki nilai positif tentang dirinya sebagai bagian dari kelompoknya. Sebaliknya individu akan memiliki penilaian negatif terhadap dirinya bila mengalami perasaan tidak diterima. Dari uraian diatas maka aspek-aspek harga diri adalah perasaan berharga, perasaan mampu, dan perasaan diterima. E.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri Dalam papalia (2007) secara umum terdapat

dua faktor yang

mempengaruhi harga diri.

Universitas Sumatera Utara

A. Budaya. Adanya harapan dari stereotipe gender terhadap daya tarik fisik pada kaum perempuan mempengaruhi harga diri khususnya bagi wanita karena menjadi khawatir dengan penampilan mereka. Crain (dalam Papalia, 2007) menemukan harga diri pada remaja wanita umumnya lebih rendah dibanding laki-laki karena kekhawatiran dengan penampilan dan kemampuan mereka. B. Pola asuh orang tua Dekovic et al. (dalam Papalia, 2007) menyatakan anak dari orangtua yang hangat dan positif membuat anak lebih merasa dihargai dan membantu mereka memiliki evaluasi yang positif terhadap diri, sebaliknya anak yang terabaikan dapiat menyebabkan mereka memiliki harga diri yang rendah serta berpandangan pesimis terhadap masa depan.

F. Gaya Atribusi Bermusuhan F.1 Definisi Gaya Atribusi Bermusuhan Krahe (2005) menyatakan Konsep gaya atribusi bermusuhan mengacu pada kecendrungan kebiasaan seseorang untuk menginterpretasi stimulus ambigu dengan cara bermusuhan dan agresi. Ketika individu mendapatkan aksi tidak menyenangkan dari orang lain (misalnya ketika seseorang menabrakmu dikoridor swalayan hingga terjatuh) individu dengan gaya atribusi yang tinggi cenderung akan mempersepsikan aksi orang lain tersebut memang dengan sengaja untuk menunjukan permusuhan.

Universitas Sumatera Utara

Tokoh lain yang memberikan definisi gaya atribusi bermusuhan antara lain Baron (2006) yang mendefinisikannya sebagai kecendrungan diri untuk mempersepsikan adanya motivasi bermusuhan dari reaksi orang lain terhadap kita ketika reaksi orang lain tersebut terkesan ambigu. Selanjutnya Beumeister dan Bushman (2008) menyatakan konsep gaya atribusi bermusuhan mengacu pada kecendrungan untuk mempersepsikan suatu aksi yang ambigu dari orang lain sebagai niat permusuhan secara sengaja. Kirsh (2006) menyatakan, gaya atribusi bermusuhan mengacu pada situasi dimana individu menyimpulkan adanya faktor kesengajaan untuk menunjukan permusuhan dalam aksi orang lain, walaupun maksud sebenarnya belum jelas. Miller (2008) menyatakan konsep gaya atribusi bermusuhan merupakan kemungkinan seseorang untuk mengatribusikan tujuan permusuhan dari orang lain ketika situasinya sendiri tidak menjamin adanya niat permusuhan. Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya atribusi bermusuhan dapat diartikan sebagai kecendrungan seseorang untuk mengartikan aksi orang lain sebagai tindakan yang memiliki tujuan bermusuhan, walaupun maksud sebenarnya belum jelas dan situasinya sendiri tidak menjamin adanya niat permusuhan. F.2 Aspek-Aspek Gaya Atribusi Bermusuhan Barbara krahe dan Inggrid moller (2004) dalam mengukur gaya atribusi bermusuhan pada situasi yang ambigu melibatkan 3 aspek berikut : A. Mempersepsikan adanya permusuhan (Perceived Hostile Intens)

Universitas Sumatera Utara

Krahe (2004) menyatakan konsep ini mengacu pada sejauh mana seseorang yakin bahwa tindakan tidak menyenangkan dari orang lain pada situasi yang tidak jelas merupakan kesengajaan untuk menunjukan permusuhan. Individu dengan atribut gaya atribusi bermusuhan yang tinggi akan menyatakan sangat yakin bahwa orang lain memang benar dengan sengaja menunjukan permusuhan, sebaliknya orang yang rendah pada atribut gaya atribusi permusuhan menyatakan tidak begitu yakin akan adanya kesengajaan dari orang lain untuk menunjukan permusuhan. B. Merasakan kemarahan (anger) Krahe (2004) menyatakan konsep ini mengacu pada sejauh mana seseorang merasakan kemarahan pada situasi mendapatkan tindakan tidak menyenangkan dari orang lain, ketika situasi tersebut tidak jelas. Pernyataan sangat marah menandakan keadaan individu dengan gaya atribusi bermusuhan yang tinggi, sementara orang dengan gaya atribusi bermusuhan yang rendah akan menjawab tidak begitu marah. C. Keinginan membalas (wish to retaliate) Konsep ini menurut Krahe (2004) mengacu pada sejauh mana seseorang yang mendapatkan tindakan tidak menyenangkan dari orang lain, walau dalam situasi yang belum jelas sekalipun memiliki keinginan untuk membalas tindakannya. Gaya atribusi bermusuhan yang tinggi pada seseorang akan cenderung menyebabkan keinginan yang kuat untuk membalas.

Universitas Sumatera Utara

F.3 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Gaya Atribusi Bermusuhan Stoff, Breiling, & Maser (1997) menyatakan beberapa faktor yang mempengaruhi gaya atribusi bermusuhan. A. Family stressor Crittendon dan Ainsworth (dalam Stoff,

Breiling, & Maser, 1997)

menyatakan anak yang terabaikan (maltreatment), mengarahkan dirinya untuk mengembangkan suatu struktur pemikiran bahwa lingkungan sosialnya adalah lingkungan yang tidak ramah, sehingga hal ini juga akan mengarahkannya untuk mempersepsikan tindakan orang lain dalam situasi yang ambigu sebagai tindakan permusuhan. Dodge, Bates dan Pettit ( dalam Stoff,

Breiling, & Maser, 1997)

menyatakan riwayat kekerasan yang dialami anak oleh orang dewasa mengarahkan anak untuk mempersepsikan secara bermusuhan tanda-tanda/aksiaksi orang lain dalam lingkungan sosialnya, bahkan dalam situasi yang belum jelas sekalipun. B. Sosial ekonomi Dodge et al. (dalam Stoff, Breiling, & Maser, 1997) menyatkan anak-anak dengan latar belakang ekonomi yang rendah lebih sering menunjukan gaya atribusi bermusuhan. Hal ini juga berkaitan dengan status sosial di masyarakat, anak-anak Amerika-Afrika yang beresiko mendapatkan diskriminasi ras dari penduduk kulit putih mayoritas merasakan perasaan tidak aman di lingkungannya sehingga anak-anak dari ras Amerika-Afrika lebih sering mempersepsikan aksi/tindakan orang lain sebagai permusuhan.

Universitas Sumatera Utara

G. Peran Kontrol Diri, Harga Diri, dan gaya Atribusi bermusuhan terhadap Perilaku Agresif Petugas Satpol PP Pada bab sebelumnya telah diuraikan beberapa kasus yang menunjukan fenomena agresifitas Satpol PP dalam melaksanakan tugas penertiban. Perilaku agresif Satpol PP terhadap masyarakat yang dikenai penertiban adalah perilaku agresif kolektif, karena terjadi dalam situasi kelompok massa, dimana menurut Krahe (2005), perilaku kolektif mencakup berbagai macam bentuk perilaku yang dilakukan kelompok atau individu sebagai bagian kelompok. Beberapa teori mengenai efek massa menjelaskan adanya keseragaman aksi pada individu-individu didalam kelompok massa. Misalnya teori single collective mind/ group mind oleh Gustave Le Bon (dalam Forsyth, 1990) yang menyatakan adanya efek contagion yang menyebabkan individu-individu dalam massa bereaksi dengan cara yang sama, serta teori emergent norm Ralph turner and lewis killian (dalam Forsyth, 1990) yang menyatakan adanya keseragaman aksi individu dalam massa, karena anggotanya mematuhi norma yang relevan dalam situasi tersebut. Pada kasus agresi satpol PP yang merupakan kasus agresi kelompok ini sendiri, ternyata dari hasil wawancara dan observasi menunjukan tidak semua anggota terlihat bersatu dalam emosi dan aksi agresif, karena ada beberapa anggota yang tidak mengikuti pengaruh kelompok untuk menyerang masyarakat yang dikenai penertiban, bahkan ternyata ada yang malah melerai antara keduanya. Maka disini peneliti ingin melihat faktor-faktor individual yang

Universitas Sumatera Utara

berperan dalam perilaku agresif Satpol PP, faktor individual yang menyebabkan adanya perbedaan individu dalam perilaku agresif. Membicarakan individualitas dalam kelompok massa bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, merujuk pada teori individualistic tradition oleh Floy Allport (dalam Hogg, 2001) yang menyatakan: “There is no psychology of groups which is not essentially and entirely a psychology of individual” (Allport, 1924 : p.4)

Kemudian, dalam kaiatannya terhadap aksi kolektif, Alport (dalam Hogg, 2001) menyatakan: “The individual in the crowd behaves just as he would behave alone only more so” (Allport, 1924 : p.295)

Kemudian Olson (dalam Hogg, 2001) berpendapat bahwa didalam massa, anggota-angggotanya beraksi dengan tujuan meningkatkan keuntungan individual hanya saja dibawah kondisi kelompok. Selanjutnya Berk (dalam Hogg, 2001) menyatakan efek dari massa adalah mengubah perilaku dengan tetap mempertahankan standart individual dan kecendrungan perilaku dasar. Berkaitan dengan pemahaman terhadap perbedaan individu dalam perilaku agresif, Krahe (2005) menyatakan terdapat 6 aspek kepribadian untuk menjelaskan perbedaan individu dalam agresi yaitu, iritabilitas, kerentanan emosional, pikiran kacau versus perenungan, kontrol diri, harga diri serta gaya atribusi bermusuhan.

Universitas Sumatera Utara

Dari keenam faktor kepribadian yang menjelaskan perbedaan individu dalam agresi, peneliti mencoba menelaah faktor-faktor mana sajakah yang dinyatakan sebgai faktor kepribadian yang paling dekat dengan perilaku agresif. Menurut Caprara (dalam Geen & Doneirstein, 1998) berdasarkan beberapa studi eksperimental yang menunjukan bahwa efek utama dari agresi terhadap ketiga aspek kepribadian yaitu iritabilitas, kerentanan emosianal, dan pikiran kacau versus perenungan, sejajar dengan efek utama dari frustasi seperti kegagalan tugas. Studi yang menunjukan kaitan antara variabel-variabel ini dengan agresi menimbulkan pernyataan bahwa status mereka hanya sebagai variabel moderator yakni menjadi aspek penyebab agresi secara tak langsung. Aspek kepribadian selanjutnya menurut Krahe (2005) yang relevan untuk memahami perbedaan individu dalam agresi adalah kontrol diri. Tokoh lain yang menyatakan bahwa kontrol diri menjadi faktor kuat yang mempengaruhi perilaku agresif antara lain Gottfredson dan Hirschi (1990) yang dalam bukunya General Theory of Crime menyatakan level yang rendah pada kontrol diri adalah penyebab dari kriminalitas, kenakalan remaja, agresi, dan tindakan-tindakan sejenis lainnya (dalam Miller, 2009). Selanjutnya Baumeister & Boden (dalam Geen & Donnerstein, 1998) menyatakan lemahnya kontrol diri menjadi penyebab yang sangat dekat dengan perilaku kekerasan dan agresi yang terjadi secara spontan. Miller (2005) menyatakan kegagalan dalam kontrol diri merupakan penyebab penting dari agresi. Gottfredson dan Hirschi menyatakan bahwa lemahnya kontrol diri membuat orang lebih mungkin bertindak antisosial dan mengikuti impulsimpuls yang illegal (dalam Miller, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Kemudian Krahe (2005) menyatakan bahwa harga diri (self esteem) juga telah lama dianggap sebagai faktor penting yang menjelaskan perbedaan individu dalam agresi. Serta disini peneliti menemukan adanya perbedaan pendapat beberapa tokoh mengenai kaitan antara harga diri dan agresi. Secara tradisional diasumsikan bahwa rendahnya harga diri akan memicu perilaku agresif, yakni bahwa

perasaan

negatif

mengenai

diri

sendiri

membuat

orang

lebih

berkemungkinan menyerang orang lain (Krahe, 2005). Sebagian peneliti mendukung konsepsi ini, namun Baumeister dan Boden (dalam Krahe, 2005) menyatakan bahwa individu-individu dengan harga diri yang tinggilah yang lebih rentan terhadap perilaku agresif, terutama saat stimulus agresi berupa umpan balik negatif yang dipersepsikan sebagai ancaman terhadap harga diri mereka yang tinggi. Untuk aspek kepribadian terakhir yang dijelaskan krahe (2005) sebagai faktor yang mempengaruhi perbedaan individu dalam agresi adalah gaya atribusi bermusuhan (hostile atributional style). Variabel ini merupakan satu-satunya yang ditemukan peneliti sebagai aspek kepribadian yang juga dinyatakan tokoh lain sebagai faktor kepribadian yang menjelaskan perbedaan individu dalam agresi. Seperti Baron (2003) yang menyatakan 4 faktor personal yang menjelaskan perbedaan individu dalam agresi, yaitu tipe kepribadian A dan B, Narcissism, perbedaan gender, serta gaya atribusi bermusuhan. Kemudian Baumeister (2008) menyatakan ada 3 faktor dari dalam diri yang menyebabkan agresi, yaitu frustasi, mood yang tidak baik, dan terakhir ia juga menyatakan gaya atribusi bermusuhan sebagai salah satu faktor agresi.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarakan pemaparan diatas, peneliti menemukan 3 faktor yang dinyatakan paling dekat sebagai penyebab agresi yakni kontrol diri, harga diri dan gaya atribusi bermusuhan. Selanjutnya peneliti ingin melihat adakah peran ketiga faktor ini dalam perilaku agresif satpol PP pada kasus-kasus agresi saat melaksanakan penertiban yang sering terjadi.

H. Hipotesa Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ Ada peran kontrol diri, harga diri dan gaya atribusi bermusuhan terhadap perilaku agresif petugas satpol PP saat melaksanakan tugas penertiban”

Universitas Sumatera Utara

Suggest Documents