Chapter II.pdf - USU Institutional Repository - Universitas Sumatera ...

15 downloads 28 Views 282KB Size Report
Efek Indonesia”. Tujuan penelitian untuk menganalisis variabel-variabel bebas ... Syahputra (2008) dengan judul penelitian ”Analisis Faktor-faktor yang.

BAB II URAIAN TEORITIS

A. Penelitian Terdahulu Febriana (2004) dengan penelitian yang berjudul ”Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia”. Tujuan penelitian untuk menganalisis variabel-variabel bebas yang diduga mempengaruhi underpricing saham pada perusahaan yang go public di BEJ. Dalam penelitian ini, terdapat enam variabel bebas yang diuji yaitu reputasi auditor, reputasi underwiter, umur perusahaan, solvabilitas perusahaan, profitabilitas perusahaan dan jenis industri. Penelitian ini menggunakan uji regresi berganda. Hasil penelitian dari tujuh hipotesis yang diajukan, terdapat dua variabel yang dapat dibuktikan oleh data penelitian. Variabel tersebut adalah profitabilitas dan solvabilitas. Profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap tingkat initial return sebesar 0,018. Solvabilitas perusahaan mempunyai pengaruh terhadap initial return sebesar 0,046. Dari hasil uji statistik didapat nilai F signifikan pada 0,004 yang berarti secara simultan variabel-variabel bebas dalam penelitian ini berpengaruh terhadap tingkat underpricing. Namun secara parsial hanya variabel reputasi underwriter, nilai penawaran dan financial leverage yang berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat underpricing dengan nilai signifikansi kurang dari 0,05. Berdasarkan hasil perhitungan regresi, variabel-variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini hanya mampu menjelaskan besarnya variasi dalam

Universitas Sumatera Utara

variabel terikat sebesar 23,9 %, sedangkan sisanya sebesar 76,1 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hayati (2007) dalam penelitiannya yang berjudul ”Pengaruh Informasi Akuntansi dan Non Akuntansi terhadap Kecenderungan Underpricing: Studi pada Perusahaan yang Melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia”. Variabel bebas yang diuji adalah ROA, financial leverage, firm size, reputasi underwriter, reputasi auditor dan umur perusahaan. Model analisa yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan menguji variabelnya secara simultan dan parsial. Hasilnya terdapat satu variabel yang berpengaruh terhadap underpricing yaitu ukuran perusahaan. Uji F yang dilakukan memberi hasil F sebesar 2,849 dan tingkat signifikansi sebesar 0,023 < α=5%. Hal ini membuktikan semua variabel bebas berpengaruh terhadap underpricing. Syahputra (2008) dengan judul penelitian ”Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Underpricing Saham pada Perusahaan yang IPO di Bursa Efek Indonesia tahun 2003-2006”. Variabel bebas yang diteliti yaitu reputasi auditor, reputasi underwriter, umur perusahaan, ROE, persentase saham yang ditawarkan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji regresi linier berganda. Uji F menghasilkan probabilitas 0.038. Hal ini menunjukkan semua variabel bebas mempunyai pengaruh secara bersama-sama dan mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat underpricing. Secara parsial, variabel reputasi underwriter berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing, sedangkan variabel bebas lain tidak terbukti berpengaruh secara signifikan. Reputasi auditor, reputasi auditor, reputasi underwriter, umur perusahaan, ROE,

Universitas Sumatera Utara

persentase saham yang ditawarkan mempunyai pengaruh yang negatif terhadap tingkat underpricing. Amelia dan Saftiana (2007) dengan judul penelitian ”Analisis Faktorfaktor yang Mempengaruhi Underpricing Penawaran Umum Perdana (IPO) di BEJ”. Variabel bebas yang diteliti adalah ukuran perusahaan, umur perusahaan, persentase kepemilikan saham yang ditahan, financial leverage dan ROE. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian membuktikan bahwa variabel ukuran perusahaan, umur perusahaan, persentase kepemilikan saham yang ditahan, financial leverage, dan ROE tidak berpengaruh secara signifikan dengan α=5%. Persamaan regresi berganda memiliki nilai F-hitung 1.459 yang signifikan dengan α=5%. Kesimpulannya adalah variabel dependen merupakan faktor yang berpengaruh secara simultan terhadap variabel bebas. Akan tetapi model yang digunakan hanya dapat menjelaskan besarnya variasi dalam variabel terikat sebesar 20.7%.

B. Prosedur Go Public Penawaran Umum atau sering pula disebut go public adalah kegiatan penawaran saham atau efek lainnya yang dilakukan oleh emiten (perusahaan yang akan go public) untuk menjual saham atau efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur oleh UU Pasar Modal dan Peraturan Pelaksanaannya (www.idx.co.id).

Universitas Sumatera Utara

Perusahaan yang akan go public dapat mengikuti prosedur proses penawaran umum saham yang dapat dikelompokkan menjadi 4 tahapan berikut (www.idx.co.id): 1. Tahap Persiapan Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses penawaran umum. Pada tahap yang paling awal perusahaan yang akan menerbitkan saham terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta persetujuan para pemegang saham dalam rangka penawaran umum saham. Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya emiten melakukan penunjukan penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar yaitu: (a) Penjamin Emisi (underwriter) Merupakan pihak yang paling banyak keterlibatannya dalam membantu emiten dalam rangka penerbitan saham. Kegiatan yang dilakukan penjamin emisi antara lain: menyiapkan berbagai dokumen, membantu menyiapkan prospektus, dan memberikan penjaminan atas penerbitan. (b) Akuntan Publik (Auditor Independen) Bertugas melakukan audit atau pemeriksaan atas laporan keuangan calon emiten. (c) Penilai untuk melakukan penilaian terhadap aktiva tetap perusahaan dan menentukan nilai wajar dari aktiva tetap tersebut. (d) Konsultan Hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal opinion).

Universitas Sumatera Utara

(e) Notaris untuk membuat akta-akta perubahan Anggaran Dasar, akta perjanjian-perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga notulennotulen rapat. 2

Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung calon

emiten menyampaikan pendaftaran kepada BAPEPAM-LK hingga BAPEPAMLK menyatakan pernyataan pendaftaran menjadi efektif. Yang dilakukan BAPEPAM-LK adalah: a) Menerima pernyataan registrasi dan dokumen pendukung dari perusahaan yang akan going public dan dari underwiter. b) Pengumuman terbatas di BAPEPAM-LK c) Mempelajari dokumen-dokumen yang diperlukan. d) Deklarasi pernyataan registrasi efektif berlaku yang didasarkan pada tiga hal utama, yaitu kelengkapan dokumen, kebenaran dan kejelasan dari informasi dan pengungkapan tentang aspek-aspek legalitas, akuntansi, keuangan dan manajemen. 3. Tahap Penawaran Saham Tahapan ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten menawarkan saham kepada masyarakat investor. Investor dapat membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah ditunjuk. Masa penawaran sekurang-kurangnya tiga hari kerja. Jika investor tidak mendapatkan saham pada pasar perdana, maka investor tersebut dapat membeli di pasar sekunder yaitu setelah saham dicatatkan di Bursa Efek.

Universitas Sumatera Utara

4. Tahap Pencatatan saham di Bursa Efek Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. Emiten dapat melakukan proses-proses untuk mencantumkan sahamnya di pasar sekunder. a) Emiten mengisi dan menyerahkan aplikasi yang formulirnya disediakan oleh BEI untuk permintaan mencantumkan sahamnya di bursa. b) BEI akan mengevaluasi aplikasi ini berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. c) Jika aplikasi ini memenuhi kriteria yang disyaratkan, BEI akan menyetujuinya. d) Emiten kemudian harus membayar biaya jasa pencantuman. e) BEI kemudian akan mengumumkan pencantuman dari sekuritas ini. f) Sekuritas yang sudah tercantum ini siap untuk diperdagangkan.

Setelah perusahaan mencatatkan sahamnya di pasar bursa, perusahaan ini menjadi perusahaan publik yang sahamnya juga dimiliki oleh publik. Untuk melindungi publik yang juga memiliki perusahaan, BAPEPAM-LK dan BEI mengharuskan perusahaan publik untuk menyerahkan laporan rutin atau laporan khusus yang menerangkan peristiwa penting yang terjadi. Laporan ini akan segera disebarkan ke publik melalui pengumuman di bursa.

Universitas Sumatera Utara

C. Mekanisme Perdagangan Saham Menurut Samsul (2006:47), terdapat empat kategori pasar dalam pasar modal yaitu: 1. Pasar Pertama Pasar primer adalah tempat atau sarana bagi perusahaan yang pertama kali menawarkan saham ke masyarakat umum. Penawaran umum awal ini telah mengubah status dari perseroan tertutup menjadi perseroan terbuka. Berikut ini adalah ciri-ciri pasar perdana: (a) Emiten menjual saham kepada masyarakat luas melalui penjamin emisi dengan harga yang telah disepakati antara emiten dan penjamin emisi. (b) Pembeli tidak dipungut biaya transaksi. (c) Pembeli belum pasti memperoleh jumlah saham sebanyak yang dipesan, apabila terjadi oversubcribed. (d) Investor membeli melalui penjamin emisi ataupun agen penjual yang ditunjuk. (e) Masa pesanan terbatas. (f) Penawaran melibatkan profesi seperti akuntan publik, notaris, konsultan hukum, dan perusahaan penilai. (g) Pasar primer disebut juga dengan nama pasar perdana. 2. Pasar Kedua Pasar kedua adalah tempat atau sarana transaksi jual-beli efek antarinvestor dan harga dibentuk oleh investor melalui perantara efek. Pasar kedua disebut juga dengan istilah bursa efek. Berikut ciri-ciri pasar kedua:

Universitas Sumatera Utara

(a) Harga terbentuk oleh investor melalui perantara efek yang berdagang di Bursa Efek. (b) Transaksi dibebani biaya jual dan beli. (c) Pesanan dapat berjumlah tak terbatas. (d) Anggota bursa memasukkan tawaran jual/beli investor ke dalam komputer perdagangan yang disediakan oleh pihak bursa. (e) Anggota bursa beli menyelesaikan pembayaran dana kepada Sentral Kliring, kemudian menerima sahamnya dengan cara pemindahbukuan oleh Sentral Kustodian dengan menunjukkan bukti pembayaran dari Sentral Kliring. (f) Anggota bursa jual menyelesaikan penyerahan saham kepada Sentral Kustodian kemudian menerima dana dengan cara pemindahbukuan oleh Sentral Kliring dengan menunjukkan bukti penyerahan efek dari Sentral Kustodian. 3. Pasar Ketiga Pasar ketiga adalah sarana transaksi jual beli efek antara market maker serta investor dan harga dibentuk oleh market maker. Market maker adalah anggota bursa. Pasar ketiga bukan merupakan Bursa Efek berskala kecil, tetapi berskala besar bahkan sangat besar. Ciri-ciri pasar ketiga: (a) Harga dibentuk oleh market maker (b) Investor membeli dan menjual dari dan ke market maker.

Universitas Sumatera Utara

(c) Jumlah market maker banyak sehingga invstor dapat memilih harga terbaik. (d) Perdagangan dilaksanakan di kota-kota besar dalam jaringan nasional. 4. Pasar Keempat Pasar keempat adalah sarana transaksi jual beli antara investor jual dan investor beli tanpa melalui perantara efek. Transaksi dilakukan secara tatap muka antara investor beli dan investor jual untuk saham atas pembawa. Pasar keempat ini hanya dilakukan oleh para investor besar karena dapat menghemat biaya transaksi daripada jika dilakukan di pasar sekunder. Ciri-ciri pasar keempat: (a) Investor beli dan investor jual bertransaksi langsung lewat electronic communication network (ECN). (b) Harga terbentuk dalam tawar menawar langsung antara investor beli dan investor jual. (c) Investor menjadi anggota ECN, central custodian, dan central clearing. (d) ECN, central custodian, dan central clearing terjalin dalam satu sistem jaringan perdagangan. (e) ECN terdaftar sebagai bursa efek.

D. Underpricing Underpricing adalah keadaan dimana harga penawaran saham perdana lebih murah dibandingkan harga saham di pasar sekunder. Penentuan harga penawaran saham perdana merupakan kesepakatan antara underwiter dan

Universitas Sumatera Utara

perusahaan emiten (Samsul, 2006:75). Sedangkan harga di pasar sekunder berasal dari permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Banyak penelitian dari beberapa negara membuktikan terjadinya underpricing saat IPO. Secara umum, underpricing saat IPO lebih tinggi terjadi di bursa efek negara berkembang dibandingkan dengan bursa efek negara maju. Perusahaan yang melakukan IPO akan mengalami underpricing untuk jangka pendek (Rodoni dan Yong, 2002:180-182). Jadi, perusahaan yang mengalami underpricing saat IPO memiliki kemungkinan memiliki harga saham yang lebih tinggi di masa depan. Variabel underpricing dihitung dengan menggunakan initial return dengan menghitung selisih antara harga penawaran umum perdana dengan harga jual di pasar sekunder pada penutupan hari pertama. Menurut Yolana dan Martani (2005:545), initial return dapat dihitung dengan:

InitialReturn =

ClosingPrice − OfferingPrice x 100% OfferingPrice

Keterangan: Closing Price adalah harga penutupan saham pada hari pertama di bursa efek. Offering Price adalah harga yang ditawarkan oleh emiten saat penjualan perdana di pasar primer.

E. Return on Assets Return on Asset (ROA) adalah salah satu rasio profitabilitas untuk mengetahui tingkat pengembalian saham atas aset yang dimiliki oleh perusahaan. ROA dapat dihitung dengan membagikan laba bersih yang tersedia bagi

Universitas Sumatera Utara

pemegang saham dibagi dengan total aset. ROA merupakan ukuran untuk menghitung profitabilitas perusahaan. ROA dapat menjadi salah satu pertimbangan calon investor sebelum berinvestasi. ROA yang tinggi akan menumbuhkan kepercayaan investor, sehingga akan mengurangi terjadinya underpricing. Menurut Brigham dan Houstan (2006:109), rumus yang digunakan untuk memperoleh ROA adalah:

ROA =

Laba Bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa x 100% Total Aktiva

F. Umur Perusahaan Lamanya perusahaan berdiri dapat mencerminkan kemampuan perusahaan untuk terus melangsungkan usahanya. Perusahaan yang telah lama berdiri membuktikan bahwa perusahaan tersebut mampu melewati berbagai persoalan yang dihadapi. Tim manajemen yang telah berpengalaman akan lebih mudah untuk mengantisipasi berbagai berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Hal ini menambah kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan dan berdampak positif pada harga saham.Umur perusahaan dihitung sejak perusahaan berdiri hingga terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Setianingrum, 2005:II-22). Umur Perusahaan = Tahun Perusahaan Listing – Tahun Perusahaan Berdiri

G. Financial Leverage Financial leverage untuk mengukur seberapa jauh sebuah perusahaan menggunakan pendanaan melalui utang. Total utang meliputi kewajiban lancar dan utang jangka panjang. Kreditor lebih menyukai rasio utang yang lebih rendah karena semakin rendah angka rasionya, maka semakin besar perlindungan dari

Universitas Sumatera Utara

kerugian yang dialami kreditor jika terjadi likuidasi. Di sisi lain, pemegang saham mungkin menginginkan lebih banyak leverage karena akan memperbesar ekspektasi keuntungan (Brigham dan Houstan, 2006:101-104). Financial leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai investasi perusahaan. Semakin besar financial leverage maka semakin besar pula risiko yang dihadapi. Financial leverage dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Fakhruddin dan Sopian, 2001:61).

Financial Leverage =

Total Utang x 100% Total Aktiva

Universitas Sumatera Utara

Suggest Documents