Chapter I.pdf - USU Institutional Repository - Universitas Sumatera ...

8 downloads 173 Views 265KB Size Report
penulis buku dan produsen media. Salurannya adalah media pendidikan. ( media instruksional). Dan penerima pesannya adalah siswa juga guru. Universitas ...

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah. Komunikasi merupakan kebutuhan hidup yang sangat penting bagi makhluk hidup, atau dengan kata lain tidak ada makhluk dapat hidup tanpa komunikasi. Proses komunikasi dapat diartikan sebagai suatu proses penyampaian suatu pesan (message), ide, gagasan, pikiran, dan sebagainya, dari penyampai pesan (source) kepada penerima pesan (receiver). Hubungan antara penyampai pesan dan penerima pesan itulah yang disebut komunikasi. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berkomunikasi. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa komunikasi dapat dilakukan dengan simbolsimbol/tanda-tanda yang banyak dilakukan pada zaman prasejarah sampai pada penggunaan teknologi canggih pada zaman modern, seperti internet, teleconference, dan sebagainya. Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses penyampaian pesan melalui saluran atau media tertentu kepada penerima pesan. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi atau ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya biasa guru, siswa, orang lain atau penulis buku dan produsen media. Salurannya adalah media pendidikan (media instruksional). Dan penerima pesannya adalah siswa juga guru.

Universitas Sumatera Utara

Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada dikurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lainnya kedalam simbol-simbol komunikasi, baik simbol verbal (kata-kata lisan atau tertulis), maupun non verbal atau visual. Proses penuangan pesan kedalam simbol-simbol komunikasi

disebut

(siswa/mahasiswa)

encoding.

menafsirkan

Selanjutnya simbol-simbol

penerima

pesan

komunikasi

yang

mengandung pesan tersebut disebut decoding. Ada kalanya proses penafsiran atau decoding tersebut berhasil, dan ada kalanya juga tidak berhasil. Penafsiran yang gagal atau kurang berhasil berarti kegagalan/kekurangberhasilan dalam memahami apa-apa yang didengar, dibaca, dilihat atau diamatinya. Beberapa faktor yang menjadi penghambat atau penghalang komunikasi dikenal dengan istilah barrier atau noises. Hambatan tersebut meliputi hambatan psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, kepercayaan, intelegensia, pengetahuan, dan keadaan fisik seperti kelelahan, sakit, keterbatasan daya indera, dan cacat tubuh. Siswa yang senang terhadap matapelajaran, topik serta gurunya tentu lain hasil belajarnya dibanding dengan yang benci atau tidak menyukai semua itu. Hambatan lainnya adalah hambatan kultural, seperti perbedaan adatistiadat, norma sosial, kepercayaan dan nilai-nilai lingkungan. Perbedaan adat-istiadat, norma sosial, dan kepercayaan kadang-kadang bias menjadi sumber salah paham.

Terakhir adalah hambatan lingkungan, yaitu

Universitas Sumatera Utara

hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitar. Karena adanya berbagai jenis hambatan tersebut baik dalam diri guru maupun siswa/mahasiswa, dapat menyebabkan proses komunikasi belajar mengajar seringkali berlangsung tidak efektif dan efisien. Media pendidikan atau media instruksional sebagai salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan sehingga membnatu mengatasi hal-hal diatas, penggunaan media instruksional ini dapat mempercepat arus komunikasi sehingga komunikasi berjalan efektif dan efisien sehingga dapat meniadakan jarak, waktu, dan ruang. Media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang untuk menyebarkan ide gagasan, sehingga ide atau gagasan itu samapai pada penerima (Santoso S. Hamijaya). Media adalah channel atau saluaran karena pada hakekatnya media telah memperluas atau memperpanjang kemampuan manusia untuk merasakan, mendengar, dan melihat dalam batas-batas jarak, ruang dan waktu. Dengan bantuan media batas-bats itu hampir tidak ada (Mc. Luchan). Media instruksional adalah segala jenis sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan instruksional, mencakup media grafis, media yang menggunakan alat penampil, peta, globe, dan sebagainya. Media instruksional adalah peralatan fisik untuk

Universitas Sumatera Utara

menyampaikan isi instruksional termasuk buku, film, video, tape, sajian slide, guru, dan perilaku non verbal. Dengan kata lain media instruksioanl mencakup perangkat lunak (software), dan atau perangkat keras (hardware) yang berfungsi sebagai alat bantu belajar. Media instruksional adalah sarana perantara dengan menggunakan alat penampil dalam proses belajar mengajar untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan instruksional meliputi kaset, audio slide, film strip, OHP, LCD proyektor, film, audio, televisi, dan sebagainya. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa media instruksional adalah sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupun lunak untuk mencapai proses dan hasil instruksional secara efektif dan efisien serta tujuan instruksioanl dapat dicapai dengan mudah. Karena mengemas informasi secara visual ini merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upaya menyampaikan suatu ide, gagasan, kritikan, himbauan dan sebagainya. Hal ini didasari karena informasi yang dilengkapi dengan bahasa grafis/visual dapat meningkatkan hampir dua kali lipat kemungkinan informasi atau ide yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti oleh seseorang. Visualisasi ide merupakan suatu proses/upaya agar sebuah ide dapat “digambarkan” dengan lebih nyata sehingga dapat dipahami secara mental.

Universitas Sumatera Utara

Untuk bisa mengingat  10% dari apa yang dibaca  20% dari apa yang didengar  30% dari apa yang dilihat  50% dari apa yang didengar dan dilihat Tabel I.1 Bentuk Komunikasi BENTUK

SESUDAH 3 JAM

KOMUNIKASI

SESUDAH

3

HARI

Verbal (audio saja)

70%

10%

Visual saja

72%

20%

Visual & Verbal

85%

65%

(Sumber. Pendayagunaan Media Instruksional di Perguruan Tinggi)

Hasil penelitian secara nyata membuktikan bahwa penggunaan alat bantu sangat membantu aktivitas proses belajar mengajar dikelas terutama peningkatan prestasi belajar siswa/mahasiswa, tapi kadang-kadang dosen atau guru lebih memilih menggunakan metode ceramah (lecture method) yang monoton dan paling popular dikalangan dosen dan guru. Keterbatasan media teknologi pendidikan disuatu pihak dan lemahnya kemampuan dosen /guru menggunakan media tersebut, disisi lain membuat metode ceramah makin menjamur, terbatasnya alat-alat teknologi

Universitas Sumatera Utara

pendidikan yang dipakai dikelas diduga merupakan salah satu penyebab lemahnya mutu studi siswa atau masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Penggunaan Media Instruksional dalam peningkatan Efektivitas Komunikasi dalam Proses Belajar mengajar di AMIK MBP”. AMIK MBP (Akademi Manajemen Informatika Komputer Medan Business Polytechnic) didirikan pada tahun 1999, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi. Saat ini AMIK MBP mengelola 2 (dua) Program Diploma yaitu:  Program III  Program I Program Diploma III memiliki 2 program studi yaitu Manajemen Informatika dan Teknik Informatika. Sedangkan Program Diploma I hanya memiliki satu program studi yaitu Manajaemen Informatika. Kampus AMIK MBP telah memanfaatkan media instruksional berupa LCD (Liquid Crystal Display) dalam kegiatan belajar mengajarnya. Hampir semua mata kuliah yang diajarkan menggunakan fasilitas ini, kecuali Mata kuliah Pengembangan Kepribadian seperti Pancasila, Agama dan sebagainya. Tiap kelas diikuti oleh 30 sampai 40 mahasiswa, sehingga suasana belajar sangat efektif.

Universitas Sumatera Utara

I.2 Perumusan Masalah. “Sejauhmanakah Pengaruh Penggunaan LCD Proyektor terhadap Efektivitas Komunikasi dalam Proses Pembelajaran di AMIK MBP Medan?”

I.3 Pembatasan Masalah. Untuk menghindari ruang lingkup peneltian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

a. Penelitian ini menggunakan metode korelatif untuk mengetahui sejauhmana hubungan antara penggunaan LCD terhadap efektivitas komunikasi. b. Media instruksional yang akan diteliti hanya penggunaan LCD proyektor c. Mahasiswa yang akan menjadi responden adalah mahasiswa AMIK MBP Medan. d. Penelitian dilakukan mulai 25 Oktober sampai dengan 30 November 2007.

Universitas Sumatera Utara

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian antara lain: a. Untuk mengetahui sejauhmanakah hubungan atau korelasi antara penggunaan LCD proyektor dan efektivitas komunikasi dalam proses pembelajaran di AMIK MBP Medan. b. Untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan dengan menggunakan LCD. 1.4.2 Manfaat Penelitian antara lain: a. Secara akademis, penelitian diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap keilmuwan ilmu komunikasi. b. Secara teoritis, penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai media instruksional dan efektivitas komunikasi. c. Secara praktis, data yang diperoleh dari penelitian ini dapat menjadi sumbang saran kepada pihak AMIK MBP Medan sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi.

I.5 Kerangka Teori. Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. Kerlinger menyatakan teori merupakan himpunan konstruk, konsep, definisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sisitematis tentang

Universitas Sumatera Utara

gejala dengan menjabarkan relasi diantara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2004:6). Pada penenlitian ini teori yang digunakan antara lain: I.5.1 Media Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berari tengah, perantara atau pengantar. Gerlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang memebuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebh khusus pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronos untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Batasan lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian diantaranya kan diberikan berikut ini AECT (Assosiation of Education and Communication Technology,1977) memberi batasan media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Disamping sebagai penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator menurut Fleming(1987:234) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator medi amenunjukkan fungsi atau

Universitas Sumatera Utara

perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar-siswa dan isi pelajaran. Disamping itu mediator dapat pula mencerinkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada peralatan yang canggih, dapat disebut media. Ringkasnya media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran.

Big Media Little Media: Tools and Technologies for Instruction (1977) dari Wilbur Schramm. Schramm membedakan media besar yaitu yang komplek dan mahal, dan media kecil yang sederhana dan biaya relatif murah. Pembedaan itu bukanlah suatu dikotomi melainkan suatu skala kelanjutan (continous scale). “big media’ mempunyai day atarik yang lebih besar terutama bagi non-pendidik (1977: 6). Dalam bukunya itu Schramm mengkaji informasi yang ada mengenai pemilihan media untuk keperluan pembelajaran. Dia berusaha membuat generalisaasi dan teori yang berhubungan dengan pemilihan media. Penggunaan media pembelajaran sebagai suplemen pengajaran dikelas akan efektif dan lebih mudah diterima oleh guru kelas dan siswa. Kode Iconic (gambar, diagram, dan lain-lain) sangat efektif untuk menarik minat, mengingat kembali unsur yang telah tersimpan dalam proses belajar,

Universitas Sumatera Utara

dalam presentasi stimulus utama, dan dalam mendorong terjadinya transfer dari pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari ke hal-hal baru. System simbolik digital pada media sangat berguna untuk peristiwaperistiwa belajar dan dalam mempelajari keterampilan intelektual dasar. Bila dokombinasikan dengan symbol iconic, dapat melaksanakan hampir seluruh apa yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. LCD (Liquid Crystal Display) adalah monitor layar datar. Layar LCD memanfaatkan dua keeping bahan yang terpolarisasi dengan ditambah cairan kristal diantara diantara kepingan tersebut. Sinyal listrik yang dileawtkan melalui cairan kristal tersebut akan membuat kristal yang ada di dalamnya mencegat cahaya yang lewat. Oleh karena itu tampilan LCD biasanya citra yang berwarna-warna. (Abdul Kadir, 2005:156).

I.5.2 Teknologi Oleh karena alat-alat komunikasi sudah sedemikian majunya, tidak sepantasnya kalau penyampaian pengajaran, penerangan dan penyuluhan masih dilakukan secara verbalitas atau dengan kata-kata belaka. Pangajaran/pendidikan harus sejalan dengan kemajuan cara manusia berkomunikasi. Oleh karena itu kita berkewajiban untuk mengerahkan segala cara dan daya untuk menggunakan semua alat yang ada untuk membuat pengajaran/pendidikan menjadi lebih efektif. Alat-alat itu adalah Media Instruksional Pendidikan.

Universitas Sumatera Utara

Media instruksional/media pembelajaran termasuk salah satu media komunikasi interaktif , karena dapat menimbulkan efek komunikasi dua arah. Pesan atau materi yang disampaikan oleh dosen menggunakan media pembelajaran dapat menimbulkan efek bagi mahasiswa, dari pesan itu menimbulkan pengertian, pemahaman, sampai pada diskusi sehingga kegiatan belajar-mengajar menjadi efektif.

1.5.3 Komunikasi Efektif Komunikasi berarti mempresentasikan suatu subjek atau materi kepada suatu khalayak denagn suatu cara yang abik, denagn maksud untuk menyampaikan pengetahuan atau mengembangkan pemahaman dikalangan khalauk tersebut. Suatu komunikasi dianggap efektif atau berhasil, jika hamper seluruh khalayak yang dilibatkan dapat emnunjukkan pemahaman mereka tentang subjek yang disampaikan. Komunikasi dikatakan efektif bila orang berhasil menyampaikan apa yang dimaksudkannya. Sebenarnya ini adalah salah satu ukuran bagi efefktivitas komunikasi. Secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksud oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.

Universitas Sumatera Utara

1.5.3.1 Kredibilitas Komunikator Sebagai komponen dari peristiwa komunikasi yang berlangsung tatkala menjalankan tugasnya, seorang pendidik, pengajar dan penyuluh adalah sumber atau komunikator. Karena kedudukan dan fungsi komunikator

dalam

upaya

menciptakan

efektivitas

dalam

proses

komunikasi adalah sangat penting karena terletak efektif tidaknya pesan yang disampaikan. Seorang guru atau pendidik harus mampu menjadi komunikator yang baik agar mahasiswa atau komunikannya dapat mengerti apa yang disampaikannya. Komunikator yang baik dan efektif hendaknya memiliki kredibilitas atau penilaian yang baik dimata khalayaknya. Ada beberapa cara membangun kredibilitas (Rakhmat 200:74) yaitu: 1. Otoritas yaitu keahlian atau kemampuan dibidangnya 2. Goodsense dengan menghindari ketidakjujuran, julukan-julukan tertentu dan sebagainya. 3. Good Will dengan berbicara tentang kepentingan khalayak 4. Good Character dengan penampilan serta kata-kata yang sopan dan ramah. 5. Dinamis, jika bebricara serius, ekspresikan dengan suara serius, demikian pula dengan gembira tunjukan dengan semangat. Selain memiliki kredibiltas yang baik, seorang komunikator juga harus mampu menunjukkan daya tarik yang dimilikinya. Daya tarik komunikator terletak pada 4 hal, yaitu:

Universitas Sumatera Utara

1. Similarity, kesamaan demografik seperti bahasa, suku, agama dan sebagainya. 2. Familiarity, komunikator dikenal baik. 3. Liking, komunikator disukai atau diidolakan oleh khalayaknya. 4. Physic, bentuk dan tampilan fisiknya sempurna (Cangara, 1998:98).

1.5.3.2 Media Yang Efektif Media diperlukan apabila kita ingin hal-hal yang kita sampaikan itu tidak segera hilang dari ingatan para khalayak begitu kegiatan belajarmengajar selesai dilakukan. Untuk itu selain media cetakan yang bisa setiap saat dibaca atau diulang-ulang, perlu juga media yang bersifat audio visual. Namun untuk itu perlu dilakukan pemilihan media apa yang akan dipakai.

1.5.3.4 Pesan Yang Efektif Menurut

Wilbur

Schramm

(Effendy

1992:37)

agar

proses

komunikasi berjalan secara efektif, maka komunikasi harus memperhatikan kondisi-kondisi yaitu: a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga menarik perhatian komunikan. b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama mengerti c. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan.

Universitas Sumatera Utara

Pesan harus layak sebagai situasi kelompok dimana komunikan berada untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. Pengemasan pesan juga sangat menentukan berhasil tidaknya suatu komunikasi. Pesan yang dikemas sedemikina rupa akan lebih mudah diserap dan dimengerti sehingga tujuan komunikasi tepat mengenai sasaran. Penyampain pesan merupakan tahapan atau unsure yang sangat penting dalam menyampaiakan suatu materi atau pelajaran bagi anak didik.

I.6 Kerangka Konsep. Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai dan dapat mengantarkan peneliti pada rumusan hipotesa (Nawawi,1995:40). Konsep adalah penggambaran yang sangat tepat fenomena yang hendak diteliti yakni istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu, yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun,1995:57). Jadi kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis, yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalisasikan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Universitas Sumatera Utara

Media instruksional merupakan media komunikasi yang digunakan dalam bidang pendidikan. Media instruksional dapat membuat komunikasi menjadi lebih efektif. Media instruksional dapat menyampaikan pengertian, pemahaman, atau informasi dengan cara yang lebih konkrit atau lebih nyata daripada yang dapat disampaikan dengan kata-kata yang diucapkan atau dicetak atau ditulis. Oleh karena itu alat-alat yang terdapat dalam media instruksional membuat suatu pengertian informasi menjadi lebih berarti. Kita lebih mudah dan lebih cepat belajar dengan melihat alat-alat sensori seperti gambar, bagan, contoh barang, model. Kata-kata yang diucapakan ditulis atau dicetak penuh dengan bhaya verbalisme, artinya penggunaan kata-kata kadang tidak dapat dimengerti dengan jelas. Hasilnya keragu-raguan. Menurut beberapa faktor dalam filsafat dan sejarah pendidikan, apa yang kita ketahui, tapatnya pengetahuan disalurkan ke otak melaui satu indera atau lebih. Banyak ahli berpendapat, bahwa 75% dari pengetahuan manusia sampai ke otaknya melalui mata. Maka dengan melihat sekaligus mendengar, orang dapat menerima pelajaran dengan lebih mudah dan lebih cepat mengerti tentang apa yang dimaksud oleh yang memberi pelajaran. Keragu-raguan atau salah pengertian dapat dihindarkan secara efektif. Alat bantu atau media komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1986) dimana ia melihat bahwa hubungan komunikasi akan

Universitas Sumatera Utara

berjalan lancar dengan hasil yang maksimal apabila menggunakan alat bantu yang disebut media komunikasi atau media instruksional.

Kerangka Konsep Sarana/ Media Sarana/Media Media Instruksional Media Instruksional

Komunikator (Dosen/Pengajar)

Pesan (Materi/Pelajaran

Encoding

Komunikan (Mahasiswa)

Decoding

Gambar 1 Kerangka Konsep

I. 7 Model Teoritis Variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep akan dibentuk menjadi suatu model teoritis sebagai berikut: Variabel Bebas (X) Pengaruh Penggunaan LCD proyektor

Variabel Terikat (Y) Efektivitas Komunikasi dam l j j

Variabel Antara (Z) Karakteristik Responden

Gambar 2 Model Teoritis

Universitas Sumatera Utara

I.8 OperasionalVariabel Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah dijelaskan diatas, maka untuk lebih memudahkan operasionalisasi dalam memecahkan masalah perlu dibuat operasionalisasi variable. Adapun operasionalisasi variable dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel I.2 Operasionalisasi Variabel

VARIABEL TEORITIS Penggunaan LCD

Efektivitas Komunikasi

VARIABEL OPERASIONAL 1. Frekuensi penggunaan 2. Penyajian isi materi 3. kejelasan isi materi 1. Kredibilitas Komunikator a. kemampuan b. tingkah laku c. disukai 2. Media a. Ketepatan media b.Menarik atau tidak menarik 3.Pesan Kognisi a. Pengertian b. Pemahaman c. Pengertian Afeksi a. Tertarik atau tidak tertarik Konasi a. Keinginan b. Minat c. Diskusi Kualitas Kreativitas

Universitas Sumatera Utara

Karakteristik

1. Jurusan 2. Angkatan 3. Usia

I.9 Definisi Operasional Definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variable. Definisi operasional adalah informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variable yang sama. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah: 1. Penggunaan LCD antara lain: a. Frekuensi penggunaan : menyangkut berapa kali sehari LCD Proyektor digunakan untuk pembelajaran. b. Penyajian materi : cara mengemas informasi/materi kuliah. c. Kejelasan informasi apakah informasi yang disampaikan apakah jelas atau tidak jelas bagi mahasiswa.

2. Efektivitas komunikasi dalam belajar mengajar antara lain: a. Kredibilitas Komunikator a.1 Kemampuan yaitu dimana seorang komunikator harus menguasai topik yang disampaikannya. a.2 Tingkah laku yaitu faktor dimana seorang komunikator harus mampu berprilaku baik, terutama saat sedang mengajar atau mendidik mahasiswanya.

Universitas Sumatera Utara

a.3 Disukai atau Tidak Disukai apakah komunikator adalah orang yang disukai atau tidak disukai oleh komunikannya. b. Media b.1 Ketepatan Media apakah LCD proyektor adalah Media belajar yang tepat bagi mahasiswa b.2 Menarik atau Tidak Menarik adalah Bagaimana tanggapan mahasiswa tentang materi yang disampaikan menggunakan LCD proyektor. c. Pesan c.1komponen kognisi c.1.1 Perhatian adalah perhatian responden terhadap semua matakuliah yang disajikan menggunakan LCD. c.1.2 Pemahaman adalah sejauhmana mahasiswa mengerti tentang suatu mata kuliah yang disajikan. c.1.3 Pengertian adalah apakah mahasiswa mengerti apa yang disampaikan oleh penyaji atau dosen.

c.2komponen afeksi c.2.1 Sikap tertarik atau tidak tertarik responden terhadap materi yang disajikan menggunakan LCD.

c.3komponen konasi c.3.1 Keinginan untuk belajar

Universitas Sumatera Utara

c.3.2 Minat mengikuti perkuliahan c.3.3 Kecenderungan untuk aktif dalam berdiskusi

d. Kualitas adalah apakah mutu hasil belajar mahasiswa dengan menggunakan

media

instruksional

lebih

baik

dibandingkan

mahasiswa yang tidak menggunakan media instruksional.

e. Kreativitas apakah ada teknologi lain yang lebih bagus akan diciptakan oleh mahasiswa tersebut.

3.

karakteristik responden a. Jurusan, apakah Manajemen Informatika atau Teknik Informatika b. Angkatan: 2004, 2005 dan 20006 c. Usia : usia dari responden

I.10 Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya yang mungkin benar dan mungkin juga salah. Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah: Ha:

Terdapat hubungan antara penggunaan LCD Proyektor terhadaap Efektivitas Komunikasi dalam proses Pembelajaran.

Universitas Sumatera Utara

Suggest Documents