manifestasi sosialisme-demokrasi di indonesia sebuah pencarian ...

65 downloads 273 Views 492KB Size Report
12 Des 2011 ... DEMOKRASI. OLEH. Abi Rekso Panggalih. 060906057. Diajukan sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar. Sarjana Sosial dalam ...

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK SKRIPSI

MANIFESTASI SOSIALISME-DEMOKRASI DI INDONESIA SEBUAH PENCARIAN JEJAK IDEOLOGI DAN KONSTRUKSI DEMOKRASI

OLEH Abi Rekso Panggalih 060906057

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Sosial dalam bidang Ilmu Politik Medan, 2011

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

LEMBAR PERYATAAN KEASLIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama

: Abi Rekso Panggalih

NIM

: 060906057

Program Studi

: Ilmu Politik

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul MANIFESTASI SOSIALISME-DEMOKRASI DI INDONESIA: SEBUAH PENCARIAN JEJAK IDEOLOGI DAN KONSTRUKSI DEMOKRASI Benar-benar merupakan hasil karya pribadi dan seluruh sumber yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

12 Desember 2011

Abi Rekso Panggalih 060906057

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama

: Abi Rekso Panggalih

NIM

: 060906057

Program Studi

: Ilmu Politik

Judul tugas karya akhir

:

MANIFESTASI SOSIALISME-DEMOKRASI DI INDONESIA: SEBUAH PENCARIAN JEJAK IDEOLOGI DAN KONSTRUKSI DEMOKRASI Telah diperiksa oleh dosen pembimbing dan dosen pembaca serta dinyatakan layak untuk diajukan ke sidang skripsi Program Sarjana Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Disetujui oleh

Ahmad Taufan Damanik, MA Rangkuty,

______________________

Muhammad Ridwan

_________________________

Universitas Sumatera Utara

Kata Pengantar Skripsi ini di dedikasikan kepada sebuah kerja keras dan integritas para pendiri bangsa atas keyakinan ideologis yang diperjuangkan. Pembahasannya banyak mengikut sertakan teks yang dihargai sebagai gagasan orisinalistas para pendiri bangsa. Berbicara demokrasi Indonesia tidak akan lekang dimakan zaman, meski memiliki keharusan untuk membuka kembali teks-teks yang (mungkin) sudah lama ditinggalkan orang. Ada benarnya apabila pembaca menduga tulisan ini akan banyak menggeluti dalam basis sejarah yang telah lalu. Namun dalam teropong metodologis yang digunakan memberikan aturan ketat untuk kembali memahami sebuah pristiwa dan ide di masa lalu sebagai referensi atas keberlanjutan politik dimasa kini. Seolah memang tidak ada yang terputus antara dimasa lalu dan kehidupan di masa kini. Meski sebuah kekuasaan politik mengupayakan untuk mengubur sejarah masa lalu, namun selalu ada generasi-generasi muda yang melawan kesewenang-wenangan kekuasaan politik atas rekayasa sejarah. Atas situasi itu maka tulusian ini sebagai langkah awal untuk kembali memperbincangkan derajat “kekirian” para gagasan pendiri Republik Indonesia.

Dengan begitu, menjadi penting untuk kembali mendudukan posisi ideologi secara personal pendiri bangsa. Periode-periode 1920’an adalah sebuah momentum emas yang menyatukan kaum intelektual untuk membahas habis persoalan nasionalisme. Lebih lanjut pada episode-episode perjuangan kemerdekaan masing-masing pendiri bangsa memiliki sikap politik atas pembacaan situasi. Meski secara keluar (ke pada pihak Kolonial) mereka sedang melakaukan perlawanan, namun secara kedalam mereka juga

Universitas Sumatera Utara

saling bertikai gagasan untuk merumuskan sebuah Republik yang diinginkan. Sehingga gagasan perjuangan Nasional bukan tanpa perdebatan mendasar diantara para pendiri bangsa (Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka). Meskipun landasan argumentasi mereka relatif sama dimana telah terwahyukan dalam horizon Marxisme. Episode pertikaian ini sangat sulit dibatasi atas sebuah periode waktu, karena pertikaian ini bahkan memiliki klimaksnya pada pasca proklamasi. Dimana kemudian satu sama lain menjadi saling bersebrangan dan saling menabrakkan diri satu-sama lain dalam eskalasi konflik politik. Apabila kita lebih cermat untuk menanta kembali konteks kesejarahan Indonesia, rekonstruksi itu akan menemukan sebuah bentuk yang berbeda dengan yang ada sebelumnya. Dimana selama ini pradigma ke-Indonesiaan telah dimaikan oleh sebuah fase rezim berkuasa.

Kita bukanlah bagian atas konteks yang terjadi dimasa lampau, sehingga kebenciankebencian politik yang ter-ekses sampai akhir-akhir ini tidak akan memiliki guna banyak atas nama perubahan yang lebih baik. Kadang kala permusuhan beberapa tokoh dimasa lampau senantiasa dijadikan basis kecerugiaan serta sikap permusuhan dalam berpolemik dimasa kini tanpa gagasan yang jelas. Tulisan ini (meski tidak berdaya) berharap kita mulai berdamai dengan pertikaian masa lampau. Kita tidak lagi saling mendeskritkan dengan bantuan ‘sentimen’ berdasarkan afiliasi kelompok dan sub-ideologis tertentu, yang kita inginkan adalah peperangan ‘argumen’ bermutu. Masuk dalam cakrawala politik pendiri bangsa adalah sebagai refleksi kita dimasa kini, atas cita-cita dimasa lamapau yang mungkin saja belum sempat tercapai. Kita gugat kembali ke-diri-an kita sebagai rakyat Indonesia, apakah peradaban sosial yang sedang berlangsung adalah

Universitas Sumatera Utara

sebuah cita-cita para pendiri bangsa yang dirumuskan dalam sebuah Republik. Dengan semangat itu kita sama-sama bekerja untuk mengobati diri kita masing-masing atas ‘alergi ke-kirian’ yang selalu menjadi momok menakutkan ditengah kehidupan sosial.

Skripsi yang berorientasi pada pendekatan sejarah dan teks ini, secara ketat di eksplorasi dengan Post-Marxist yang dijabarkan oleh Laclau dan Mouffe, guna menagkap makna ‘terselubung’ dibalik kejadian pada masanya. Pendekatan ini bisa dikatakan relativ baru dibanding pendekatan strukturalis yang cenderung lebih mapan. Analisa politiknya mengunakan Teori wacana sebagai jalan untuk menjelaskan sebuah realitas. Dengan cara seperti itu, tulisan ini bekerja untuk membongkar sisi sejarah yang mungkin tidak terungkap atau tidak dianggap penting dalam sebuah pristiwa, namun selayaknya sebuah penelitian tidak ada yang sempurna. Makan atas bantuan metodologis itu, skripsi ini berupaya menyajikan sebuah pemahaman yang mungkin berbeda dengan kajian-kajian yang serupa sebelumnya. Karena atas sebuah penelusuran teks dan konteks kesejarahannya, kita akan merekonstrusi sebaik mungkin untuk menjawab dugaandugaan yang tenggelam dan bahkan terdistorsi pada sebuah kekuasaan politik (baik kekuasaan dimasanya, maupun setelahnya).

Tulisan ini tidak akan selesai tanpa adanya dukungan yang terus memotivasi untuk menuntaskan dengan batas kemampuan maksimal, dimana tulisan ini juga menjadi syarat utama untuk mendapatkan gelar Sarjana di Departemen Ilmu Politik –Universitas Sumatera Utara. Saya ucapkan terimakasih kepada kedua orang tua saya dan keluarga yang mendukung secara moril. Untuk Yayik Novitriami yang terus mengingatkan serta memberi semangat, meski dibatasi oleh jarak. Ketiga keponakan saya Tasya, Lala dan

Universitas Sumatera Utara

Naya yang selalu memberi nafas keceriaan ditengah tumpukan teks yang harus dibaca setiap malam. Serta seluruh kawan-kawan Ilmu

Politik 2006 yang tidak bisa saya

sebutkan satu-persatu, dimana selalu membantu disetiap kesulitan. Dan semua kawankawan aktivis yang selalu siap menjadi partner berdiskusi.

Adapun beberapa nama yang harus secara personal saya ucapkan terimakasih, Bapak Ahmad Taufan Damanik selaku dosen pembimbing yang memberikan bahan referensi tambahan serta meluangkan waktu untuk membaca skrip ditengah kesibukan yang begitu padat, juga orang yang menjadi motivasi dan inspirasi saya untuk menuliskan skripsi ini dengan metodologi Post-Marxist serta sosok yang saya anggap sebagai orang tua dalam dunia akademis. Juga tidak lupa kepada Bapak Muhammad Ridwan Rangkuty sebagai dosen pembaca yang sudah member masukan atas skripsi ini. Kepada Mas Agus Isti yang dengan sabar melawan kemacetan Jakarta dalam menemani untuk mendapatkan narasumber dan bahan-bahan, guna melengkapi tulisan ini. Seluruh staff KKSP yang telah menjadi saudara-saudara saya diluar rumah, untuk Bung Eko, Bang Alley, Bang Jemie kawan-kawan yang selalu mendorong semangat dan menjadi media diskusi dalam keseharian. Untuk Bung Rezani yang selalu memberikan kamar asrama untuk sekedar istirahat. Mas Erwin yang selalu memberi tumpangan tempat tinggal dan kendaraan setiap kali ke Jogja untuk mencari buku-buku, juga Mas Arie Sudjito dan teman-teman Pergerakan Indonesia (PI) adalah manusia-manusia yang tetap membuat saya berideologi sampai hari ini.

Universitas Sumatera Utara

Khusus kepada sahabat sejati Almarhum Yovega Ardiarista, sahabat yang mati muda melawan rasa sakit. Berharap skripsi ini bisa membayar ketidak hadiran ku dalam proses pemakaman mu!!

Medan, 15 Desember 2011

Abi Rekso Panggalih

Universitas Sumatera Utara

Abstraksi Persoalan Idologi adalah hal primer yang harus kembali dibicarakan dalam sebuah kerangka bernegara. Republik Indonesia didirikan dengan semangat sosialisme, dimana segala pandangan Marxisme mengendap pada pikiran pokok bapak bangsa. Lantas kita sebagai generasi muda tidak hanya bisa terdiam dengan pandangan kososng dalam mengisi kerangaka bernegara. Tulisan ini memang sengaja diusung untuk kembali mempromosikan sebuah ideologi yang sangat relevan atas konsis zaman dan benag merah sejarah. Mencari artefak ideologi tidak bisa dilakukan dengan serampangan. Penyelidikan ini haru dilakukan dengan sangat hati-hati berdasar sebuah fakta tekstual yang menjadi pertinggal pada masanya. Dengan kondisi seperti itu kita akan kembali dihadapkan pada sebuah piliha ideologis. Pendekatan Post-Marxist adalah sebuah pilihan metodologis yang memungkinkan untuk membongkar formasi waca yang pernah terjadi dimasa lampau. Dengan cara ini maka peranan wacana yang hegemonik dan antagonisme wacana adalah sebuah cara untuk memahami proses terbentuknya sebuah paradigma sosial. Hegemoni wacana berjalan untuk menundukkan wacana yang tumbuh disekitarnya, sehinggga ada sebuah kosensus yang berlaku secara sadar maupun tidak. Disisi lain antagonisme wacana beroperasi atas dasar keterlemparan yang tidak lagi diakomodir pada situasi yang sama. Kadang kala proses antagonisme akan menimbulkan sebuah potensi kekuatan baru untuk mengkalahkan wacana yang sudah mapan. Nasionalisme Indonesia berdiri diatas gagasan Marxisme yang menjadi lawan tandi dari pemerintahan kolonialisme. Nasionalisme Indonesia digagasa oleh para anak-anak muda terdidik yang melakukan propaganda baik lewat media massa maupun proses pengkaderan panjang untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa. Gerakan ini kemudian terakumulasi menjadi sebuah perlawan ideologi atas segala penindasan colonial yang terus-menerus menjadi basis situasi perlawanan. Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka adalah manusia-manusia yang mengkorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk kemerdekaan Indonesia. Semangat kemerdekaan bukan saja sebatas antikolonialisme dalam pertentnagan ras (warna kulit). Namun ada program sosialisme yang ingin terus disematkan dalam fundamental bernegara. Sehingga kita tidak sebatas menghargai mereka dalam batas kesosokan sebagai seorang tokoh bangsa. Namun ada sebuah cicta-cita luhur sosialisme untuk membangun sebuah peradaban yang adil dan sejahtera, meski segala pencapainan cita-cita itu terjadi pertikaian politik yang berujung pada kesedihan mendalam. Pada akhir hayat mereka hanya dikenal sebagai seorang manusia yang pernah memimpin Negara ini. Tapi kita enggan untuk kembali melirik tulisannya. Sosialisme-Demokrasi yang kini kembali didengung-dengungkan Negara Eropa, sebagai solusi atas krisis prahara yang disebabkan oleh rabies Neo-Liberalisme bukan lah sebatas omong kosong. Kalau kita kembali pada semangat republik Indonesia pada awal-awal kemerdekaan, maka jejak dan relevansi ide itu dengan jelas dan lugas termaktub dalam pikiran founding fathers. Namun atas sebuah kesewanangan penguasa, sejarah tertimbun oleh darah dan kekuasaan untuk menghapus jejak luhur kaum sosialis Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

Daftar Isi

BAB I

Latar Belakang ........................................................................................................... 14

Metodologi dan Teori ................................................................................................ 22

Representasi Imagine Community dalam Bentuk Nasionalisme...................... 22

Antagonisme, logika perbedaan dan persamaan ............................................... 25

Genealogi, Imajinasi Sosial (mitos) dan Hegemoni ............................................ 28

BAB II

Perdebatan Marxisme Eropa: Sebuah Titik Sejarah Sosial-Demokrasi .............. 34

Kemunculan Tokoh Revisionis: Harapan Baru Sosialisme Eropa ................... 41

Kelompok Spartakus dan Wanita yang Mempertahankan Pandangan Klasik

Marxisme……………………………………………………………..……………38

Universitas Sumatera Utara

BAB III

Perintisan Nasionalisme Indonesia: Tumbuh Diatas Intelektualitas dan Akar Sosialisme-Marxist ..................................................................................................... 56

Evolusi Politik: Kemunculan Organisasi Politik Dalam Perjuangan Kemerdekaan .................................................................................................................................. 63

Transformasi Ideologi: Sebuah Benang Merah Antara Eropa dan Nusantara dari Pengaruh Wacana Politik Pers Media dan Aktivitas Kelompok Studi ............ 66

BAB IV

Jejak Ideology Dan Konstruksi Demokrasi Indonesia “Baru” ............................. 82

Soekarno Menuju Pembebasan Nasional: Pandangan Negara Kesatuan dari Sukamiskin Sampai Pegangsaan Timur .............................................................. 83

Meniti Jembatan Emas Bersama Rakyat Marhaen: Mencari Arti Kebebasan Dalam Bentuk Kemerdekaan Nasional ............................................................... 87

Definisi Kesetaran Gender Bagi Soekarno: Sebuah Paradox Dalam Mitologi Perempuan ............................................................................................................. 97

Universitas Sumatera Utara

Marhaenisme Vs Sosial-Demokrasi: Pertauatan Elektisme Soekarno Dengan Gagasan Sosialisme Eropa ................................................................................. 102

Hatta Melawan Dengan Tulisan: Konsep Kesejahteraan dan Keadilan Sosial Dari Anak Minang Untuk Bangsa Indonesia ............................................................. 105

Membangun Pilar Ekonomi Sosialis: Kritik Terhadap Kapitalisme, Orientasi Ekonomi-Kooperasi Yang Berdaulat Pada Rakyat ......................................... 111

Praktek Demokorasi Dalam Kacamata Kebersamaan Hatta: Logika Politik Distributif, Kearah Parlementariat dan Otonomi Daerah (Federalisme) ..... 125

Acuan Sistem Demokrasi dan Menjaga Iklim Pruralisme: Menghindarkan Pengaruh Mayoritarian Dengan Kemampuan Debat Intelektual dan Basis Moralitas Kepemimpinan ................................................................................... 137

Diri Sjahrir Demi Cita-Cita Perubahan Agung: Perjuangan Manusia Atas Pertempuran Ideologis, Serta Harapan Membangun Tatanan Demokratis…140

De Socialist Untuk Indonesia: Pertaruhan Revisionist-Marxisme Untuk Merebut Kemerdekaan Republik Bersama Sosial-Demokrasi....................................... 147

Sosialisme Ala Kita: Perjuangan Internasionalisme Atas Martabat Kemanusiaan dan Renungan Revolusi Kerakyatan ................................................................. 160

Universitas Sumatera Utara

Partai Sosialis Progresiv: ‘Tidak Perlu Banyak, Yang Penting Paham Akan Arah Perjuangan!’ ........................................................................................................ 180

Pengembaraan Tan Malaka, Revolusioner Tangguh Dibalik Teralis Besi Kekuasaan: Membangun Republik Diantara Radikalisme-Marxist dan Religiusitas-Islam ................................................................................................. 185

Mimpi Suci Seorang Revolusioner Kiri: Pilihan Antara Parlemen dan Soviet, Obor Republik Sebagai Dasar dan Anjuran Kemerdekaan Indonesia ......... 194

Kredo Partai Perjuangan Masive Di Tengah Kesendirian: Perlawanan Massa Sebuah Tinjauan Teori dan Praktek ................................................................. 212

Geriliya Vs Perundingan: Bambu Runcing Untuk Menuntut Kemerdekaan Penuh (Merdeka 100%) ...................................................................................... 220

BAB V Penutup ..................................................................................................................... 229

Universitas Sumatera Utara