PENGARUH ARUS KAS TERHADAP TINGKAT LIKUIDITAS ... - UNSIL

26 downloads 653 Views 549KB Size Report
yang memperhatikan pengaruh dari aktivitas-aktivitas operasi, pendanaan, dan investasi perusahaan terhadap arus kas selama periode akuntansi tertentu ...

PENGARUH ARUS KAS TERHADAP TINGKAT LIKUIDITAS (Studi Kasus pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya) Ina Hertina NPM. 083403117 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus kas terhadap tingkat likuiditas pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode data deskriptif dengan pendekatan studi kasus serta data time series yang dikumpulkan dari waktu ke waktu, untuk keperluan penelitian penulis mengambil data selama sepuluh tahun dari tahun 2002 sampai dengan 2011 dengan pengambilan data per tahun. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, dan observasi serta studi kepustakaan. Untuk menguji hipotesis, penulis menggunakan analisis regresi ganda tiga prediktor, analisis korelasi ganda tiga prediktor dan analisis koefisien determinasi. Kesimpulan penelitian ini menunjukan bahwa arus kas operasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat likuiditas, arus kas investasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat likuiditas, arus kas pendanaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat likuiditas dan arus kas operasi, arus kas investasi dan arus kas pendanaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat likuiditas.

Kata kunci : Arus Kas, Tingkat Likuiditas

LATAR BELAKANG PENELITIAN Ketika perkembangan teknologi mengubah dunia internasional ini menjadi sebuah global village, negara-negara seolah tanpa batas (borderless). Era ini populer dengan nama globalisasi. Di sinilah masalah mulai dirasakan oleh banyak negara. Dalam konteks akuntansi maka munculah akuntansi internasional yang mencoba menguraikan teori dan praktikpraktik akuntansi yang berlaku

secara internasional. Harmonisasi standar akuntansi keuangan dalam wujud International Financial Reporting Standard (IFRS) berlaku secara internasional, dan dalam proses penyusunannya faktor politik dan kondisi ekonomi menjadi tidak relevan. Dalam hal ini, sangat diharapkan ada sebuah standar yang dapat diterima oleh semua negara di

dunia. Dengan adanya standar yang diterima secara internasional, diharapkan laporan keuangan memiliki daya keterbandingan yang lebih tinggi antar negara. Tentu saja upaya-upaya kearah harmonisasi internasional ini bukanlah pekerjaan mudah. Keadaan ini juga berpengaruh terhadap Akuntansi di Indonesia. Melihat keadaan dan kebutuhan negara Indonesia dan dengan tujuan untuk mendorong semakin terciptanya transparansi yang bisa dimengerti dan memiliki standar yang sama dengan negara-negara lain, maka IAI melakukan harmonisasi dengan standar keuangan internasional, dimana nantinya semua negara akan berpedoman pada standar ini untuk semakin mendorong transparansi laporan keuangan dan bisa dimengerti oleh semua pihak, dalam hal ini khususnya mengenai informasi keuangan dari suatu unit usaha, maka oleh Komite Ikatan Akuntan Indonesia dengan penelitian yang bertahun-tahun yang telah dilakukan mengambil langkah yang matang untuk memasukkan laporan arus kas sebagai laporan utama pengganti laporan sumber dan penggunaan dana. Karena laporan ini dianggap lebih memberikan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh pemakai laporan. Laporan aliran kas (Cash Flow) diatur dalam Pernyataan Standar Akuntasi Keungan (PSAK, 2007:2.4). Menurut PSAK (2007:2.4), penyusunan laporan aliran kas ini bertujuan agar para pemakai laporan keuangan sebuah perusahaan dapat membaca dan

menilai kemampuan perusahaan yang bersangkutan dalam menghasilkan atau setara dengan kas dan menilai untuk apa saja kas dan setara dengan kas tersebut digunakan atau dimanfaatkan. Menurut ketentuan PSAK (2007:2.4), penyusunan laporan aliran kas sebaiknya dikelompokan menjadi tiga bagian. Ketiga kelompok itu adalah; aliran kas dari aktivitas operasional perusahaan, aliran kas dari aktivitas investasi, dan aliran kas dari aktivitas pendanaan.” Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa laporan arus kas dibuat untuk mengetahui sumber kas yang diperoleh dan pengalokasian kas selama satu periode kegiatan perusahaan. Tujuan utama dari laporan arus kas adalah memberikan informasi yang relevan mengenai pemasukan dan pengeluaran kas perusahaan baik rutin maupun tidak rutin selama satu periode. Makin besar jumlah kas yang ada dalam perusahaan berarti perusahaan mempunyai resiko yang lebih kecil untuk tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya. Tetapi hal ini tidak berarti perusahaan harus mempertahankan persediaan kas dalam jumlah yang besar karena semakin besar kas maka semakin banyak uang yang menganggur. Perusahaan yang mampu menghasilkan kas yang cukup dari aktivitas operasinya kemungkinan besar memiliki kondisi keuangan yang sehat karena tidak tergantung pada sumber pembiayaan dari luar perusahaan. Perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang

sehat akan mampu bertahan hidup dan memenuhi kewajiban–kewajiban pada saat jatuh tempo.

Pengertian laporan arus kas menurut Henry Simamora (2000:488) adalah sebagai berikut :

Mengingat hal tersebut diatas perlu diperhatikan apa saja yang menjadi arus kas dan digunakan untuk apa kas itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya perlu disusun suatu laporan tentang aliran kas dengan acuan pada data keuangan yang mendukung. Kemudian laporan arus kas itu dianalisa untuk mengetahui perkembangan perusahaan dalam hal ini kebutuhan dan pengalokasian kas. Laporan arus kas ini sangat berguna untuk menentukan kebijakankebijakan perusahaan dalam hal menjalankan kegiatan operasi, sedangkan bagi pihak ekstern akan berguna sebagai salah satu alternatif analisa dalam pengalokasian modal mereka.

“Laporan arus kas (cash flow statement) adalah laporan keuangan yang memperhatikan pengaruh dari aktivitas-aktivitas operasi, pendanaan, dan investasi perusahaan terhadap arus kas selama periode akuntansi tertentu dalam suatu cara yang merekonsiliasi saldo awal dan akhir kas” Menurut Prastowo dan Julianty (2005:29), laporan arus kas mempunyai kegunaan memberikan informasi untuk:

IDENTIFIKASI MASALAH Agar masalah yang akan dibahas memperoleh kejelasan dan pembahasannya lebih terarah, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana Arus Kas dari Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi dan Aktivitas Pendanaan serta Tingkat Likuiditas Perusahaan pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya. 2. Bagaimana Pengaruh Arus Kas dari Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi dan Aktivitas Pendanaan secara parsial dan simultan terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya. TINJAUAN PUSTAKA

1. Mengetahui perubahan aktiva bersih, struktur keuangan dan kemampuan mempengaruhi arus kas. 2. Menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas. 3. Mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang arus kas masa depan dari berbagai perusahaan. 4. Dapat menggunakan arus kas historis sebagai indikator jumlah waktu, dan kepastian arus kas masa depan. 5. Meneliti kecermatan taksiran arus kas masa depan dan menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak perubahan harga. Tujuan penyajian laporan arus menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2007:2.1) adalah :

“Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya”. KERANGKA PEMIKIRAN Laporan-laporan keuangan perusahaan didasarkan pada aturanaturan dan konvensi-konvensi akuntasi. Akuntasi dalam perusahaan berfungsi mengubah data menjadi informasi dalam suatu aktivitas ekonomi pada periode tertentu di suatu perusahaan. Laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan labarugi, laporan perubahan modal, laporan arus kas dan catatan atas laporan keunagan. Semua itu akan menjadi tolak ukur bagi manajemen dalam menilai kondisi keuangan yang telah di capai dan kelemahankelemahan yang ada pada perusahaan.pada akhirnya informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengambil kebijakan dan keputusan yang lebih baik yang akan ditempuh perusahaan pada waktu yang datang dalam memecahkan atau melakukan perencanaan yang lebih baikdari sebelumnya. Untuk mengetahui dengan tepat bagaimana kondisi keuangan suatu perusahaan serta kemampuannya dalam memenuhi

kewajiban keuangan perusahan, maka dapat dilakukan analisis terhadap arus kas perusahaan. Kas mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelangsungan aktivitas perusahaan, sehingga dalam pengelolaannya diperlukan perhatian yang khusus. Pengelolaan kas yang kurang efektif dapat menyebabkan kelebihan investasi dalam kas. Kas adalah seluruh uang dan dana yang disimpan dalam bank. “Kas adalah seluruh uang tunai yang ada ditangan dan dana yang disimpan di bank dalam berbagai bentuk seperti deposito dan rekening Koran”. Agnes Sawir (2005:182) Hal utama yang perlu selalu diperhatikan yang mendasari dalam mengatur arus kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana/uang yang kita miliki, kita simpan atau investasikan. Menurut Harry Supangkat (2003;33) menyatakan bahwa arus kas adalah ringkasan mengenai transaksi dalam bentuk kas yang berasal dari tiga macam kegiatan yang dilakukan perusahaan yaitu kegiatan operasi, kegiatan investasi dan kegiatan pendanaan. Arus kas adalah suatu laporan yang memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan pada periode tertentu dengan mengklasifikasikan transaksi pada kegiatan operasional, investasi, dan pendanaan. (Harahap,2001;257).

Dan definisi laporan arus kas menurut Henry Simamora (2000:488), adalah: Laporan arus kas (cash flow statement) adalah laporan keuangan yang memperhatikan pengaruh dari aktivitas-aktivitas operasi, pendanaan, dan investasi perusahaan terhadap arus kas selama periode akuntansi tertentu dalam suatu cara merekonsiliasi saldo awal dan akhir kas. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi menurut PSAK No. 2 paragraf 14 (IAI: 2009) adalah: a. penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa. b. penerimaan kas dari royalty, fees, komisi, dan pendapatan lain. c. pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa. d. pembayaran kas kepada karyawan. e. penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan klaim, anuitas, dan manfaat asuransi lainnya. f. pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasi secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi. g. Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi menurut PSAK No. 2 paragraf 16 (IAI: 2009) adalah:

a. pembayaran kas untuk membeli aktiva tetap, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aktiva tetap yang dibangun sendiri; b. Penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan dan peralatan, aktiva tak berwujud, dan aktiva jangka panjang lain; c. perolehan saham atau instrument keuangan perusahaan lain; d. uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain serta pelunasannya (kecuali yang dilakukan oleh lembaga keungan); e. pembayaran kas sehubungan dengan future contracts, forward contras, option contracts, dan swap contracts kecuali apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan menurut PSAK No. 2 paragraf 17 (IAI: 2009) adalah: a. Penerimaan kas dari emisi saham atau instrument modal lainnya. b. Pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menebus saham perusahaan. c. Penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman lainnya. d. Pelunasan pinjaman. e. Pembayaran kas oleh penyewa guna usaha (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa guna usaha pembiayaan (finance lease). Berkaitan dengan likuiditas perusahaan, arus kas memberikan

informasi bagi manajer mengenai kesanggupan perusahaan menyediakan kas untuk membayar kewajiban jangka pendek. Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo. (Agnes Sawir; 2005:8) Likuiditas berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam menggunakan kas. Tersedianya jumlah kas yang memadai sangat diperlukan agar perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo. Likuiditas sering disebut sebagai tingkat kemampuan perusahaan untuk dapat membayar kewajiban jangka pendek perusahaan. Kemampuan untuk membayar kewajiban jangka pendek dari suatu perusahaan dapat diukur dan kemampuannya untuk mendapatkan kas. Kebijakan likuiditas merupakan ketentuan yang dibuat oleh pihak perusahaan untuk mengatur kemampuan perusahaan dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajiban yang harus segera dipenuhi. Untuk menentukan tingkat perbandingan jumlah kas yang tersedia dengan kewajiban yang harus segera dipenuhi, perusahaan harus melakukan analisis terhadap tingkat likuiditas perusahaan dengan menggunakan analisis rasio likuiditas. Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap utang lancamya (utang dalam hal ini

merupakan kewajiban perusahaan). (Hanafi dan Abdul Halim, 2005:77). Nilai rasio yang rendah menunjukkan adanya masalah likuiditas bagi perusahaan. Sedangkan angka yang tinggi berarti menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar. Penilaian likuiditas suatu perusahaan menggunakan analisis rasio pada umumnya digunakan pada perusahaan yang siklus operasinya melampaui satu periode akuntansi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Current Ratio sebagai indikator likuiditas, karena rasio ini merupakan rasio yang paling umum digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan. Alasan digunakannya Current Ratio secara luas sebagai ukuran likuiditas mencakup kemampuannya untuk mengukur: 1. Kemampuan memenuhi kewajiban lancar. Semakin tinggi perkalian kewajiban lancar terhadap aktiva lancar, semakin besar keyakinan bahwa kewajiban lancar akan dibayar. 2. Penyangga kerugian. Semakin besar penyangga, semakin kecil resikonya. Rasio lancar menunjukan tingkat keamanan yang tersedia untuk menutup penurunan nilai aktiva lancar nonkas pada saat aktiva tersebut dilepas atau dilikuidasi 3. Cadangan dana lancar. Rasio lancar merupakan ukuran tingkat keamanan terhadap tingkat

ketidakpastian dan kejutan atas arus kas perusahaan. Ketidakpastian dan kejutan, seperti adanya pemogokan dan kerugian luar biasa, dapat membahayakan arus kas secara sementara dan tidak terduga. (Wild, Subranianyam dan Halsey, 2005:188, diterjemahkan oleh Yanivi S. Bactiar dan S. Nurwahyu harahap). Current Ratio merupakan rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek. Menurut Munawir (2004:104) rasio lancar dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktu jatuh tempo berarti perusahaan tersebut dalam keadaan "likuid" atau dengan kata lain perusahaan tersebut mempunyai aktiva lancar yang lebih besar dari utang lancarnya, sedangkan perusahaan yang tidak mampu memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo maka perusahaan tersebut dinyatakan dalam keadaan "illikuid". Dari uraian di atas dapat penulis ketahui bahwa analisis arus kas perusahaan dapat dijadikan dasar menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. banyak

Laporan Arus Kas dinilai memberikan informasi

tentang kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dan kondisi likuiditas perusahan dimasa yang akan datang. (Sofyan Syafri Harahap, 2004:257). Untuk menjaga likuiditas perusahaan perlu membuat perkiraan atau estimasi mengenai aliran kas didalam perusahaannya. Apakah aliran kas senyatanya selalu sesuai dengan estimasinya, maka perusahaan tersebut tidak menghadapi kesukaran likuiditas (Bambang Riyanto, 2001:96). Salah satu indikator kemampuan dalam membayar kewajiban adalah likuiditas. Perusahaan yang likuid berarti mempunyai kemampuan dalam membayar kewajiban dalam jangka pendek. Salah satu indikator yang berguna dalam menilai likuiditas perusahaan adalah arus kas perusahaan yang ditunjukkan pada laporan arus kas (Darsono dan Ashari, 2005:89). Dari penjelasan di atas, penulis dapat mengetahui bahwa arus kas dan likuiditas saling berhubungan karena dalam laporan arus kas terdapat unsur aktiva lancar dan hutang lancar. Jika adanya pengendalian dalam mengalokasikan dana perusahaan dengan baik atau semua kewajiban yang harus segera dipenuhi dapat dibiayai oleh aktiva lancar, maka likuiditas perusahaan akan terjaga.

Likuiditas adalah tingkat kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo atau kewajiban jangka pendek. Analisis rasionya adalah analisis rasio likuiditas. Di dalam rasio likuiditas terdapat unsur aktiva lancar dan kewajiban lancar, jika aktiva lancar dapat membiayai dengan baik kewajiban lancar yang harus segera dipenuhi, kondisi likuiditas perusahaan berada pada tingkat aman. HIPOTESIS Berdasarkan uraian diatas penulis mengambil kesimpulan sementara bahwa: 1. Arus kas dari aktivitas operasi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat likuiditas perusahaan. 2. Arus kas dari aktivitas investasi secara parsial berpengaruh terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Variabel) yakni Tingkat Likuiditas (Y).

3. Arus kas dari aktivitas pendanaan secara parsial berpengaruh terhadap tingkat likuiditas perusahaan. 4. Arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan secara simultan berpengaruh terhadap tingkat likuiditas perusahaan. METODE PENELITIAN Metode Yang Digunakan Penelitian yang akan dilakukan menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan pendekatan studi kasus. Operasionalisasi Variabel Berdasarkan judul penelitian yaitu “Pengaruh Arus Kas Terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan”, maka penelitian ini memiliki 4 variabel, dimana 3 variabel bebas (Independent Variabel), yakni Arus Kas Operasi (X1), Arus Kas Investasi (X2), dan Arus Kas Pendanaan (X3) serta variabel terikat (Dependent

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel Variabel Arus kas dari aktivitas operasi (cash flow from operating activities) (X1)

Definisi Variabel

Indikator

Aktivitas operasi merupakan aktivitas perusahaan yang terkait dengan laba

Arus kas bersih yang berasal dari aktivitas operasi

Wild, Subramanyam dan Halsey (2005:5)

Skala Rasio

Arus kas dari aktivitas investasi (cash flow from investing activities) (X2)

Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas

Arus kas dari aktivitas pendanaan (cash flow from financing activities) (X3)

Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta

Arus kas bersih yang berasal dari aktivitas investasi

Rasio

Arus kas bersih yang berasal dari aktivitas pendanaan

Rasio

Current Ratio

Rasio

(Syakur, 2009 : 40)

komposisi modal dan pinjaman perusahaan (Syakur, 2009: 4)

Likuiditas (Y)

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo Agnes Sawir (2005:8)

Berdasarkan judul penelitian yaitu “Pengaruh Arus Kas Terhadap Tingkat Likuiditas

Perusahaan”, gambar/model paradigma penelitian bisa dilihat dalam gambar 1 berikut ini :

Gambar Paradigma Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan teknik analisa regresi ganda. Analisis ini digunakan apabila ingin mengetahui bagaimana a. Analisis Regresi Ganda Tiga Prediktor Analisis regresi ganda tiga prediktor yang berfungsi untuk

kead aan (nai k turu nnya) variabel dependen bila dua variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya). mengetahui pengaruh arus kas dari kegiatan operasional perusahaan, arus kas dari kegiatan investasi, dan arus kas dari kegiatan pendanaan

terhadap tingkat likuiditas perusahaan di PD. Sumber Makmur Tasikmalaya, dengan rumus sebagai berikut: Y = a +b1X1 + b2X2 + b3X3

Sedangkan rumus untuk menentukan Koefisien a dan b adalah sebagai berikut : Σ Y = a + b1 ΣX1 + b2Σ X2 + b3Σ X3 ΣX1Y = b1 ΣX12 + b2 ΣX1 ΣX2 + b3ΣX1 X3 ΣX2Y = b1 ΣX1 ΣX2 + b2 ΣX22 + b3Σ X2 ΣX3

(Sugiyono, 2002 : 221) Keterangan: X1 = Arus kas dari operasi

ΣX3Y = b1 ΣX1 ΣX3 + b2 ΣX2 ΣX3 + b3ΣX32 aktivitas

X2 = Arus investasi

kas

dari

aktivitas

X3 = Arus pendanaan

kas

dari

aktivitas

Y = Tingkat Likuiditas Perusahaan a = Nilai Y jika X = 0 (harga konstan) b = Koefisien Regresi b. Analisis Korelasi Ganda Tiga Prediktor Analisis ini digunakan untuk menentukan tingkat keeratan hubungan antar variabel yang diteliti. Koefisien korelasi ini harus besar jika tingkat hubungan antar variabel kuat, maka demikian pula sebaliknya, jika tingkat hubungan antara variabel tidak kuat maka nilai r akan kecil. Analisis ini juga dilakukan untuk mengtahui untuk mengetahui pengaruh arus kas dari kegiatan operasional perusahaan, arus kas dari kegiatan investasi, dan arus kas dari kegiatan pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan di PD. Sumber Makmur

Tasikmalaya, dengan rumus sebagai berikut :

(sumber : Sugiyono : 2004) Keterangan : = R yX1 X 2 X 3 Korelasi antar variabel X1, X2 dengan X3 secara bersama-sama dengan Variabel Y yaitu arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari kegiatan investasi, dan arus kas dari kegiatan pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan. r yx1 = Korelasi Product Moment antara X1 dengan Y yaitu Pengaruh arus kas dari aktivitas operasi terhadap tingkat likuiditas perusahaan. r yx2 = Korelasi Product Moment antara X2 dengan Y yaitu Pengaruh arus kas dari aktivitas investasi terhadap tingkat likuiditas perusahaan. r yx3 Product

= Korelasi Moment antara

X2

dengan Y yaitu Pengaruh arus kas dari aktivitas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan. r x1x2x3 = Korelasi Product Moment antara X1, X2 dengan X3 yaitu Pengaruh arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, dan arus kas dari aktivitas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Koefisien kolerasi (r) menunjukkan derajat korelasi antara X dan Y. Nilai koefisien korelasi harus terdapat dalam batas-batas

yang ditunjukkan . – 1 < r < + 1 tanda positif menunjukkan adanya korelasi langsung antara kedua variabel yang berarti setiap kenaikan nilai-nilai X akan diikuti kenaikan nilai-nilai Y, dan demikian pula sebaliknya. Untuk tanda negatif menunjukkan adanya korelasi negatif atau korelasi inverse yang berarti setiap kenaikan nilai-nilai X akan diikuti dengan penurunan nilai-nilai Y dan demikian pula sebaliknya. Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien yang didapat dari hasil perhitungan tersebut, maka dapat dilihat pada ketentuan pada tabel 3.4 di bawah ini

. Tabel 3.4 Pedoman Untuk Memberikan Interprestasi Terhadap Koefisien Korelasi Interval Koefisien

Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199

Sangat rendah

0,20 – 0,399

Rendah

0,40 – 0,599

Sedang

0,60 – 0,799

Kuat

0,80 – 1,000

Sangat kuat (Sumber Sugiyono, 2004 : 183)

c. Analisis Koefisien Determinasi Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh Arus Kas dari Aktivitas Operasi, Aktivitas Investasi dan Aktivitas Pendanaan terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan.

Adapun rumus digunakan sebagai berikut : Kd = r2 x 100% (Sugiyono, 2004: 210) Keterangan : Kd = Koefisien Determinasi r = Koefisien Korelasi

yang

operasi, arus kas dari aktivitas investasi, dan arus kas dari aktivitas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Ha :  ≠ 0 Terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas operasi, arus kas dari aktivitas investasi, dan arus kas dari aktivitas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan.

Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis disajikan melalui langkah-langkah sebagai berikut : a. Untuk menguji signifikansi dilakukan dua pengujian yaitu : 

Secara Simultan menggunakan uji F Uji signifikansi secara Simultan menggunakan rumus: R 2 ( N  m  1) F m(1  R 2 ) (Sugiyono, 2002:224) Keterangan : R = Koefisien Korelasi Ganda m = Jumlah Variabel Independen N = Jumlah Anggota Sampel  Secara Parsial menggunakan uji t Uji signifikansi menggunakan Rumus : t

2.

a. Ho :  = 0 Tidak terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas operasi terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Ha :  ≠ 0 Terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas operasi terhadap tingkat likuiditas perusahaan. b. Ho :  = 0 Tidak terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas investasi terhadap tingkat likuiditas perusahaan.

rp n  3 1 r

Ha :  ≠ 0 Terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas investasi terhadap tingkat likuiditas perusahaan.

2 p

(Sugiyono, 2002:194) Keterangan : rp = Korelasi parsial yang ditemukan

c. Ho :  = 0 Tidak terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Ha :  ≠ 0 Terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan.

n = Jumlah Sampel t = t hitung yang selanjutnya dikonsultasikan dengan t tabel. b. Untuk mengetahui apakah hubungan antara X dan Y di atas berpengaruh, maka dilakukan uji hipotesis sebagai berikut : 1. Ho :  = 0 Tidak terdapat pengaruh arus kas dari aktivitas

c. Kaidah keputusan :  

Secara Simultan Tolak Ho jika F hitung > F tabel Terima Ho jika F hitung  F tabel Secara parsial

Terima Ho jika -t½ α < thitung < t½ α Tolak Ho jika -t½ α > thitung atau thitung > t½ α Penentuan model keputusan dilakukan dengan menggunakan metode pengujian dua pihak dengan asumsi sebagai berikut : 1. Tingkat keyakinan (convidence level) 95% ; Tingkat Signifikansi (Level Of Significant)  = 0,05. 2. Derajat kebebasan (Degree of Freedom) n-2. Di mana 95% merupakan tingkat keyakinan yang mungkin dapat terjadi dan kemungkinan kebenaran hasil penarikan kesimpulan, sedangkan t  merupakan t tabel yang diperoleh dengan membagi dua taraf signifikan

di mana jumlah sampel kurang dari dua (n-2). Sedangkan  atau taraf signifikan yang akan digunakan adalah 0,05 atau 5% karena Tingkat signifikansi ini adalah tingkat yang umum digunakan dalam penelitian sosial karena dianggap cukup ketat untuk mewakili hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. d. Penarikan simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian di atas, penulis akan melakukan analisis baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Analisis tersebut akan membahas tentang Pengaruh Arus Kas terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan. Kemudian hasil analisis ini akan ditarik kesimpulan apakah hipotesis yang telah ditetapkan itu diterima atau ditolak.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengamati 3 variabel bebas yaitu arus kas operasi (X1), arus kas investasi (X2), dan arus kas pendanaan (X3) serta tingkat likuiditas perusahaan sebagai tahun 2002 sampai tahun 2011.

variabel terikat (Y). Informasi semua variabel diambil berdasarkan laporan keuangan tahunan dan dokumen lain yang telah disetujui oleh manager perusahaan selama

1. Arus Kas Operasi pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya (X1) Tabel 4.2 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Arus Kas Bersih Operasi PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Tahun 2002-2011 No. 1 2 3 4

Periode 31 Des 2002 31 Des 2003 31 Des 2004 31 Des 2005

Arus Kas Operasi 96,000,000 184,000,000 187,680,000 197,055,000

Perubahan 47.83% 1.96% 4.76%

5 6 7 8 9 10

31 Des 2006 31 Des 2007 31 Des 2008 31 Des 2009 31 Des 2010 31 Des 2011

204,945,000 215,193,000 221,647,000 232,732,000 235,060,000 246,814,000

3.85% 4.76% 2.91% 4.76% 0.99% 4.76%

Sumber : Laporan Keuangan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya

2. Arus Kas Investasi pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya (X2) Tabel 4.3 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Arus Kas Bersih Investasi PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Tahun 2002-2011 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Periode 31 Des 2002 31 Des 2003 31 Des 2004 31 Des 2005 31 Des 2006 31 Des 2007 31 Des 2008 31 Des 2009 31 Des 2010 31 Des 2011

Arus Kas Investasi 5,000,000 3,250,000 2,312,000 2,665,000 4,772,000 11,270,000 15,602,000 4,225,000 7,442,000 3,928,000

Perubahan (53.85)% (40.57)% 13.25% 44.15% 57.66% 27.77% (269.28)% 43.23% (89.46)%

Sumber : Laporan Keuangan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya

3. Arus Kas Pendanaan pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya (X3) Tabel 4.4 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Arus Kas Bersih Pendanaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Tahun 2002-2011 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Periode 31 Des 2002 31 Des 2003 31 Des 2004 31 Des 2005 31 Des 2006 31 Des 2007 31 Des 2008 31 Des 2009 31 Des 2010 31 Des 2011

Arus Kas Pendanaan 68,000,000 12,125,000 16,765,000 101,986,000 27,860,000 34,468,000 41,902,000 50,265,000 169,670,000 70,250,000

Perubahan (460.82)% 27.68% 83.56% (266.07)% 19.17% 17.74% 16.64% 70.37% (141.52)%

Sumber : Laporan Keuangan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya

4. Tingkat Likuiditas pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya (Y)

Tabel 4.5 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Aktiva Lancar dan Utang Lancar Tahun 2002 – 2011 Periode (Tahun) 31 Des 2002 31 Des 2003 31 Des 2004 31 Des 2005 31 Des 2006 31 Des 2007 31 Des 2008 31 Des 2009 31 Des 2010 31 Des 2011

Aktiva Lancar (Rp) 646,000,000 553,100,000 674,712,000 738,159,400 695,026,800 753,920,200 705,770,600 776,203,000 847,779,000 779,559,400

Utang Lancar (Rp) 174,800,000 159,800,000 148,940,000 219,847,000 194,288,000 169,462,000 155,462,000 142,895,000 237,616,000 219,257,000

Sumber : Laporan Keuangan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya

Berdasarkan data pada table 4.5 diatas, maka tingkat likuiditas PD. Sumber Makmur Tasikmalaya

dengan indikator current ratio dapat diperlihatkan dalam tabel 4.6 dibawah ini :

Tabel 4.6 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Tingkat Likuiditas Tahun 2002 – 2011 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Current Ratio 369.565% 346.120% 453.009% 335.761% 357.730% 444.890% 453.983% 543.198% 356.785% 355.546%

Sumber : Laporan Keuangan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya (telah diolah)

Dalam komponen aktiva lancar, pos yang paling dominan adalah kas dibanding persediaan, piutang, dan lain sebagainya. Hal ini berarti kas dapat membantu membayar utang yang harus segera dipenuhi atau bersifat paling likuid.

Current Ratio 200% kadangkadang sudah memuaskan bagi suatu perusahaan, tetapi jumlah modal kerja dan besarnya ratio tergantung kepada beberapa faktor, suatu standar atau ratio yang umum tidak dapat ditentukan untuk seluruh

perusahaan. Current Ratio 200% hanya merupakan kebiasaan (rule of thumb) dan akan digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan penelitian atau analisa yang lebih lanjut. (Munawir,2004:72) Berdasarkan penjelasan diatas, menurut penulis current ratio pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya dapat dikatakan cukup baik apalagi nilai current ratio mencapai lebih dari angka 200%. Hal ini dikarenakan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya merupakan perusahaan dagang, yang dalam komponen aktiva lancarnya. Sehingga berdasarkan fakta tersebut, current ratio diatas 100% untuk perusahaan dagang dapat dikatakan cukup baik, karena aktiva lancar yang tersedia sudah mampu membayar utang yang harus segera dipenuhi. Pengaruh Arus Kas Operasi Secara Parsial terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan Untuk mengetahui besarnya pengaruh arus kas operasi secara parsial terhadap tingkat likuiditas dilakukan perhitungan dengan menggunakan software SPSS. Berdasarkan perhitungan SPSS (terlampir) nilai koefisien korelasi diperoleh sebesar 0,707 yang berarti bahwa arus kas operasi mempunyai hubungan yang kuat terhadap likuiditas. Dari hasil koefisien regresi arus kas operasi (X1) sebesar 0,304 dalam hal ini berarti setiap penambahan arus kas operasi sebesar Rp. 1,- dimana nilai koefisien variabel X lain tetap akan meningkatkan tingkat likuiditas perusahaan (Y) sebesar Rp. 0,304 atau sebesar 30,4%. Namun

sebaliknya, jika arus kas operasi menurun Rp. 1,- dengan asumsi bahwa nilai variabel X lain tetap maka likuiditas diprediksi mengalami penurunan sebesar Rp. 0,304 atau sebesar 30,4%. Berdasarkan hasil perhitungan SPSS versi 16.0 diperoleh nilai t hitung arus kas operasi sebesar 3,384, kemudian diperoleh T tabel dengan batasan T(n2) sebesar 2,306. Ternyata harga Ho jika -t½ α < thitung < t½ α, sehingga Ho ditolak dan hipotesis yang penulis ajukan bahwa “Arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas”, diterima. Dengan demikian perubahan arus kas operasi akan menyebabkan tingkat pertumbuhan likuiditas perusahaan, apabila arus kas operasi meningkat maka likuiditas perusahaan pun akan meningkat dan sebaliknya apabila arus kas operasi menurun maka likuiditas perusahaan pun akan menurun. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa arus kas operasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya. Pengaruh Arus Kas Investasi Secara Parsial terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan Berdasarkan perhitungan SPSS (terlampir) nilai koefisien korelasi diperoleh sebesar 0,684 yang berarti bahwa arus kas investasi mempunyai hubungan yang kuat terhadap likuiditas. Dari hasil koefisien regresi arus kas investasi (X2) sebesar 0,078 dalam hal ini berarti setiap penambahan arus kas investasi sebesar Rp. 1,- dimana nilai

koefisien variabel X lain tetap akan meningkatkan tingkat likuiditas perusahaan (Y) sebesar Rp. 0,078 atau sebesar 7,8%. Namun sebaliknya, jika arus kas investasi menurun Rp. 1,- dengan asumsi bahwa nilai variabel X lain tetap maka likuiditas diprediksi mengalami penurunan sebesar Rp. 0,078 atau sebesar 7,8%. Dengan demikian perubahan arus kas investasi akan menyebabkan tingkat pertumbuhan likuiditas perusahaan, apabila arus kas investasi meningkat maka likuiditas perusahaan pun akan meningkat dan sebaliknya apabila arus kas investasi menurun maka likuiditas perusahaan pun akan menurun. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa arus kas investasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya. Pengaruh Arus Kas Pendanaan Secara Parsial terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan Untuk mengetahui besarnya pengaruh arus kas pendanaan secara parsial terhadap tingkat likuiditas dilakukan perhitungan dengan menggunakan software SPSS. Berdasarkan perhitungan SPSS (terlampir) nilai koefisien korelasi diperoleh sebesar 0,321 yang berarti bahwa arus kas pendanaan mempunyai hubungan yang rendah terhadap likuiditas. Dari hasil koefisien regresi arus kas pendanaan (X3) sebesar 0,081 dalam hal ini berarti setiap penambahan arus kas pendanaan sebesar Rp. 1,- dimana nilai koefisien variabel X lain tetap akan menurunkan tingkat likuiditas

perusahaan (Y) sebesar Rp. -0,081 atau sebesar -8,1%. Namun sebaliknya, jika arus kas pendanaan menurun Rp. 1,- dengan asumsi bahwa nilai variabel X lain tetap maka likuiditas diprediksi mengalami kenaikan sebesar Rp. 0,081 atau sebesar -8,1%. Berdasarkan hasil perhitungan SPSS versi 16.0 diperoleh nilai t hitung arus kas pendanaan -2,477 kemudian diperoleh T tabel dengan batasan T(n-2) sebesar 2,306. Ternyata harga Ho jika -t½ α < thitung < t½ α, sehingga Ho ditolak dan hipotesis yang penulis ajukan bahwa “Arus kas pendanaan berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas”, diterima. Dengan demikian perubahan arus kas akan menyebabkan tingkat pertumbuhan likuiditas perusahaan, apabila arus kas pendanaan meningkat maka likuiditas perusahaan akan menurun dan sebaliknya apabila arus kas operasi menurun maka likuiditas perusahaan akan meningkat. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa arus kas pendanaan secara parsial berpengaruh negative secara signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya. Pengaruh Arus Kas Operasi, Arus Kas Investasi dan Arus Kas Pendanaan Secara Simultan terhadap Tingkat Likuiditas Perusahaan Untuk keperluan analisis data yang diperoleh dengan menggunakan bantuan komputer melalui program SPSS Versi 16.0 dengan tujuan memperoleh hasil pengujian yang akurat, berikut ini adalah data arus

kas operasi, arus kas inventasi, arus dari tahun 2002 sampai dengan tahun kas pendanaan dan tingkat likuiditas 2011 yang disajikan dalam tabel 4.7 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya berikut. Tabel 4.7 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Arus Kas dan Tingkat Likuiditas Tahun 2002-2011 No.

Periode

Arus Kas Operasi

Arus Kas Investasi

Arus Kas Pendanaan

Total Aktiva

Total Kewajiban

Current Ratio

1

31 Des 2002

96,000,000

5,000,000

68,000,000

646,000,000

174,800,000

369.565

2

31 Des 2003

184,000,000

3,250,000

12,125,000

553,100,000

159,800,000

346.120

3

31 Des 2004

187,680,000

2,312,000

16,765,000

674,712,000

148,940,000

453.009

4

31 Des 2005

197,055,000

2,665,000

101,986,000

738,159,400

219,847,000

335.761

5

31 Des 2006

204,945,000

4,772,000

27,860,000

695,026,800

194,288,000

357.730

6

31 Des 2007

215,193,000

11,270,000

34,468,000

753,920,200

169,462,000

444.890

7

31 Des 2008

221,647,000

15,602,000

41,902,000

705,770,600

155,462,000

453.983

8

31 Des 2009

232,732,000

4,225,000

50,265,000

776,203,000

142,895,000

543.198

9

31 Des 2010

235,060,000

7,442,000

169,670,000

847,779,000

237,616,000

356.785

10

31 Des 2011

246,814,000

3,928,000

70,250,000

779,559,400

219,257,000

355.546

Sumber: Laporan Keuangan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya (telah diolah)

Untuk penyetaraan data sehingga inventasi, arus kas pendanaan dan tidak bias dalam perhitungan maka tingkat likuiditas PD. Sumber data arus kas operasi, arus kas Makmur Tasikmalaya dibuat LN dengan hasil sebagai berikut: Tabel 4.8 PD. Sumber Makmur Tasikmalaya Arus Kas dan Tingkat Likuiditas Tahun 2002-2011 31 Des 2002

Arus Kas Operasi 18.380

Arus Kas Investasi 15.425

Arus Kas Pendanaan 18.035

Current Ratio 5.912

2

31 Des 2003

19.030

14.994

16.311

5.847

3

31 Des 2004

19.050

14.654

16.635

6.116

4

31 Des 2005

19.099

14.796

18.440

5.816

5

31 Des 2006

19.138

15.378

17.143

5.880

6

31 Des 2007

19.187

16.238

17.356

6.098

No.

Periode

1

7

31 Des 2008

19.217

16.563

17.551

6.118

8

31 Des 2009

19.265

15.257

17.733

6.297

9

31 Des 2010

19.275

15.823

18.949

5.877

10

31 Des 2011

19.324

15.184

18.068

5.874

Sumber: Laporan Keuangan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya (telah diolah)

Langkah – langkah untuk menghitung besarnya pengaruh data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan dan tingkat likuiditas yang dilakukan penulis adalah dimulai dengan analisis regresi ganda tiga prediktor, analisis korelasi ganda tiga prediktor, determinasi dan diakhiri dengan pengujian hipotesis. 1. Analisis Regresi Ganda Tiga Prediktor Untuk mengetahui besarnya pengaruh Arus Kas Operasi, Arus Kas Inventasi, Arus Kas Pendanaan terhadap Tingkat Likuiditas, maka digunakan alat analisis regresi ganda tiga prediktor sebagai berikut : Y = a +b1X1 + b2X2 + b3X3 Y = -0,303 + 0,304X1 + 0,078X2 -0,081X3 Berdasarkan hasil perhitungan SPSS (lampiran 1, table coefficient) diperoleh nilai α sebesar -0,303 dan nilai b1 sebesar 0,304, b2 sebesar 0,078 serta b3 sebesar -0,081. Hal ini menunjukkan apabila arus kas operasi, arus kas inventasi, arus

R y (1, 2,3) 

kas pendanaan nol (arus kas masuk = arus kas keluar) akan berakibat menurunnya tingkat likuiditas sebesar -0,303 (tidak likuid), sebab perusahaan tidak dapat menyediakan jumlah kas yang cukup (jumlah kas tidak bertambah). Dimana perubahan data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan akan diikuti dengan perubahan likuiditas, dengan kata lain jika data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan meningkat maka likuiditas akan meningkat dan sebaliknya apabila data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan menurun maka likuiditas akan menurun pula. 2. Analisis Korelasi Ganda Tiga Prediktor Adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui besarnya korelasi antara data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan dengan tingkat likuiditas perusahaaan. Nilai dari korelasi tersebut dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

b1  X 1Y  b2  X 2Y  b3  X 3Y Y 2

Setelah diolah dengan menggunakan SPSS versi 16.01 diperoleh hasil : r = 0,905 Dari perhitungan SPSS tersebut diatas, didapat nilai korelasi positif yang menunjukan bahwa

(Sumber : Sugiono, 2004)

terdapat pengaruh positif antara data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan dengan tingkat likuiditas perusahaan, yaitu penurunan dan kenaikan data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan akan berpengaruh

terhadap perusahaan.

tingkat

likuiditas

3. Analisis Koefisien Determinasi Untuk mengetahui besarnya pengaruh data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan, setelah diolah dengan menggunakan SPSS versi 6.0, diperoleh nilai 0,820. Koefisien determinasi menggunakan rumus : Kd = r2 x 100% (Sugiyono, 2004: 210) Kd = 0,820 x 100% Kd = 82,0% Dengan demikian besarnya pengaruh data arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan terhadap tingkat likuiditas perusahaan pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya adalah sebesar 82,0%, sedangkan sisanya sebesar 18,0%, merupakan pengaruh dari faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dalam hal ini pengarus arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan sangat besar sekali terhadap tingkat likuiditas, hal

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mengenai arus kas dan tingkat Iikuiditas pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya selama kurun waktu 10 (sepuluh) tahun yaitu dari tahun 2002 sampai dengan 2011, dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

tersebut disebabkan karena di dalam laporan arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan terdapat unsur aktiva lancar dan utang lancar, sama halnya dengan rasio likuiditas. Keeratan hubungan ini juga diungkapkan oleh Sofyan Harahap (2004:257) bahwa laporan arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan dinilai banyak memberikan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dan kondisi likuiditas perusahaan dimasa yang akan datang. 4. Uji Signifikansi R 2 ( N  m  1) F m(1  R 2 ) (Sugiyono, 2002:224) Berdasarkan hasil perhitungan SPSS versi 16.0 diperoleh nilai f sebesar 9,089 sedangkan dengan tingkat kesalahan sebesar 0,05 diperoleh F table dengan batasan F(n-k-1) sebesar 4,35. Ternyata harga f hitung lebih besar dari f table, sehingga Ho ditolak dan hipotesis yang penulis ajukan bahwa “Arus kas operasi, arus kas inventasi, arus kas pendanaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas”, diterima.

1. a) Jumlah arus kas bersih dari aktivitas operasi mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Hal ini menunjukan bahwa kondisi arus kas operasi perusahaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya sangat baik. b) Arus kas bersih dari aktivitas investasi mengalami peningkatan

setiap tahunnya. Namun meningkatnya arus kas investasi tersebut tidak memberikan dampak perubahan terhadap likuiditas yang signifikan. Hal ini terjadi disebabkan karena tingginya biaya yang dikeluarkan untuk investasi yang berfungsi untuk membantu meningkatkan dalam memperoleh volume penjualan baik produksi maupun pemasaran. Hal ini menunjukan bahwa kondisi arus kas investasi perusahaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya cukup baik. c) Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan mengalami penurunan dan kenaikan sama seperti halnya arus kas bersih investasi yang tidak signifikan setiap tahunnya. Hal ini terjadi disebabkan karena terlalu besarnya jumlah arus kas keluar yang digunakan untuk aktivitas pendanaan pada tersebut. Oleh karena itu, menunjukan bahwa kondisi arus kas pendanaan perusahaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya cukup baik. d) Current ratio pada PD. Sumber Makmur Tasikmalaya dapat dikatakan cukup baik apalagi nilai current ratio mencapai lebih dari angka 200%. Hal ini dikarenakan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya merupakan perusahaan dagang, yang dalam komponen aktiva lancarnya. Sehingga berdasarkan fakta tersebut, current ratio diatas 100% untuk perusahaan dagang dapat dikatakan cukup baik, karena aktiva lancar yang tersedia sudah mampu membayar utang yang harus segera dipenuhi. 2. a) Arus kas operasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap

tingkat likuiditas perusahaan. Artinya bahwa dimana setiap kenaikan arus kas operasi akan diikuti dengan kenaikan likuiditas. Semakin tinggi arus kas operasi maka semakin tinggi tingkat likuiditas. Hal ini menunjukan bahwa tingkat likuiditas perusahaan dipengaruhi oleh arus kas operasi yang sangat baik. b) Arus kas investasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Artinya bahwa dimana setiap kenaikan arus kas investasi akan diikuti dengan kenaikan likuiditas. Semakin tinggi arus kas investasi maka semakin tinggi tingkat likuiditas. Hal ini menunjukan bahwa tingkat likuiditas perusahaan dipengaruhi oleh arus kas investasi yang baik. c) Arus kas pendanaan secara parsial berpengaruh negative secara signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan PD. Sumber Makmur Tasikmalaya. Artinya bahwa dimana setiap kenaikan arus kas pendanaan maka akan terjadi penurunan tingkat likuiditas dan sebaliknya setiap penurunan arus kas pendanaan maka akan terjadi kenaikan tingkat likuiditas. Hal ini menunjukan bahwa tingkat likuiditas perusahaan dipengaruhi oleh arus kas pendanaan yang baik. 3. Arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap tingkat likuiditas perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa tingkat likuiditas perusahaan dipengaruhi

oleh arus kas operasi , arus kas investasi, arus kas pendanaan yang baik. Saran Berdasarkan simpulan yang telah dikemukakan diatas, penulis mencoba memberikan saran-saran yang diharapkan dapat memben manfaat yang berguna bagi PD. Sumber Makmur Tasikmalaya maupun peneliti selanjutnya di masa yang akan datang. Adapun saransaran tersebut diantaranya: 1. Bagi PD. Sumber Makmur Tasikmalaya PD. Sumber Makmur Tasikmalaya diharapkan dapat mempertahankan pengelolaan kas yang sudah cukup baik. Arus kas harus selalu mendapatkan perhatian yang lebih dari manajemen perusahaan, karena arus kas merupakan jiwa (lifeblood) bagi suatu perusahaan dan fundamental bagi eksistensi sebuah perusahaan. Perusahaan harus dengan tepat menentukan kebijakan dalam pengalokasian sumber dan penggunaan kas untuk menjaga tingkat likuiditas. 2. Bagi Peneliti Selanjutnya Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti lebih lanjut masalah likuiditas perusahaan dengan menggunakan rasio likuiditas yang lain selain current ratio, serta mengganti arus kas dengan variabel independen yang lain, juga dengan metode dan objek penelitian yang lain. DAFTAR PUSTAKA

Agnes Sawir. 2001. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. .2005. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ai Siti Rodiah. 2006. Pengaruh Arus Kas Terhadap Solvabilitas Perusahaan. Skripsi. Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Arthur J. Keown, David F. Scott, John. Martin & J. William Petty, 2001. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, diterjemahkan oleh Chaerul D Djakman. Buku 1. Jakarta : Salemba Empat. Darsono dan Ashari, 2005. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan. Andi, Yogyakarta. Dwi Prastowo dan Rifka Julianty. 2005. Analisis Laporan Keuangan. Edisi kedua Gramedia. Jakarta: Pustaka Umum. Faris Fashihul Lisan. 2011. Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap Harga Saham dengan Persistensi Laba sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Sekolah Tinggi Ekonomi Perbanas Surabaya. Garrison dan Noreen , 2000. Akuntansi Manajerial, diterjemahan oleh Totok Budi Santoso. Buku Satu, Jakarta: Salemba Empat. Hanafi M., Muhammad dan Abdul Halim, 2005. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Kedua, Cetakan Pertama. Yogyakarta: BPFE.

Harry Supangkat. 2003. Buku Panduan Direktur Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. Henry Simamora. 2000. Akuntansi;Basic Pengambilan Keputusan Bisnis. Cetakan Pertama Jilid 2. Jakarta: Salemba.

.2007. Teori Akuntansi. Jakarta: Raja Gafindo Persada. Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. Cetakan Keempat. Bandung: Alfabeta. .2004. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Keempat, Bandung: Alfabeta.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. .2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. Kieso dan Weygant. 2005. Intermediate Accounting. Jakarta: Erlangga. Martono dan Agus Harjito. 2002. Manajemen Keuangan. Cetakan Kedua. Yogyakarta: BPFE. Moh. Nazir. 2003. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia. Munawir. 2002. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. .2004. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. .2007. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Rani Isni Pratiwi. 2009. Pengaruh Arus Kas Terhadap Tingkat Likuiditas. Skripsi. Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Skousen K. Fred, 2001, Akuntansi Keuangan: Konsep dan Aplikasi, Edisi Pertama, Jakarta: Salemba Empat. Sofyan Syafri Harahap. 2001. Teori Akuntansi. Jakarta: Raja Gafindo Persada. .2004. Teori Akuntansi. Jakarta: Raja Gafindo Persada.

.2006. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Keenam, Bandung: Alfabeta. Susan Irawati. (2006). Manajemen Keuangan. Cetakan Kesatu. Bandung: Pustaka. Sutrisno. 2000. Manajemen Keuangan. Yogyakarta : Ekonosia. 2005. Manajemen Keuangan. Yogyakarta : Ekonosia. Umi

Narimawati. 2008. Analisis Multifariat Untuk Penelitian Ekonomi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wild, John J. Subramanyam, K.r. Halsey, Robert F. 2005. Analisis Laporan Keuangan. Buku 2. Ed. 8, Jakarta : Salemba Empat. Penerjemah : Yanivi S. Bactiar dan S. Nurwahyu harahap.

jurnalstieikayutangi.ac.id/downlot.php? http://repository.usu.ac.id/bitstream/ 123456789/29684/4/Chapter%20II.p df

Suggest Documents